Ketika aku jatuh dalam pesona cintanya, tangkap aku dengan tangan-tangan rahmat-Mu,
agar kehangatan itu semata aku miliki dalam dekap-Mu.
Beri aku restu bermahar syurga-Mu, jika kelak aku bertemu sang hawa di simpang hidupku.
Jangan palingkan wajah dan langkahku kesisi jalan, tepi jurang penuh kehinaan.
Agar ia terus melangkah diatas jalan mahabbah kepada-Mu
Jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu .
Jika kelak hati ini berlabuh, jangan biarkan ia tenggelam, biarkan ia berlayar diatas lautan Shirat-Mu.
agar kelak bertemu labuhan rindu dan cinta-Mu ; sebuah ujung singgah yg damai.
Demi kesucian Dzat-Mu, tiada tertahan rinduku pada-Mu,
dan padanya.
Minggu, 13 April 2014
Selasa, 01 April 2014
JIKA AKU TAK LAGI ADA
teruntuk : Meyhara (Hafifah Az-Zahra)
suatu hari jika aku tak lagi ada
maka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Meyhara
padanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muara
juga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu maut
dibelakang sudut kamar sepi, suatu hari
jika aku tak lagi ada
maka tenangkanlah isak hujan yang menangisi kepergianku
biar tak terbentang sebuah lautan diatas tanah pusara
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
perahu umur yang berlayar jauh
pun telah tertambat jangkar maut sa'at menepi
di satu hari
sa'at aku tak lagi ada, Meyhara
layatilah mayat kepergianku dengan pakaian ziarah
yang kujahit dengan pintalan benang-benang waktu
balutkan bekas jemariku keseluruh tubuhmu
agar terus kurasai denyut namaku berdetak bersama jantungmu
jika suatu malam menghukummu dengan ingatan masa lalu kita, Meyhara
bakarlah puisi ini menjadi penerang jalan
sa'at kau mencari sebuah pintu waktu yang masih terbuka
didalamnya akan kau jumpai diriku
sebagai sebuah keabadian
02-04-14
suatu hari jika aku tak lagi ada
maka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Meyhara
padanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muara
juga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu maut
dibelakang sudut kamar sepi, suatu hari
jika aku tak lagi ada
maka tenangkanlah isak hujan yang menangisi kepergianku
biar tak terbentang sebuah lautan diatas tanah pusara
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
perahu umur yang berlayar jauh
pun telah tertambat jangkar maut sa'at menepi
di satu hari
sa'at aku tak lagi ada, Meyhara
layatilah mayat kepergianku dengan pakaian ziarah
yang kujahit dengan pintalan benang-benang waktu
balutkan bekas jemariku keseluruh tubuhmu
agar terus kurasai denyut namaku berdetak bersama jantungmu
jika suatu malam menghukummu dengan ingatan masa lalu kita, Meyhara
bakarlah puisi ini menjadi penerang jalan
sa'at kau mencari sebuah pintu waktu yang masih terbuka
didalamnya akan kau jumpai diriku
sebagai sebuah keabadian
02-04-14
POHON SAJAK
lihatlah pohon sajak
yang berbuah semacam puisi berkulit rindu
dahannya melebar, ke segala tumbuh
berakar hingga ke ceruk jiwa
sebatang pohon sajak berpagar dinding waktu
tak rebah diterpa angin
tak runduk dilalui musim yang melapuk
berpasang-pasang burung-burung waktu berkelindan di dahannya
memeriahkan semacam musim pesta perkawinan
sebatang pohon sajak
tempat kepompong melekatkan sunyi
semedi dalam rumah penantian
memintal benang puisi menjadi sepasang sayap kupu-kupu
untuk terbang bebas mengitari rekah bibir bunga perindu
sebatang pohon sajak meranggaskan buah
disetiap musim, buah jatuh
bertunas dan tumbuh
berebut lahan di tanah jiwa yang lembab
berakar ke lapisan duka lara
yang terkubur dalam ceruk jiwa
payakumbuh, 1-04-14
yang berbuah semacam puisi berkulit rindu
dahannya melebar, ke segala tumbuh
berakar hingga ke ceruk jiwa
sebatang pohon sajak berpagar dinding waktu
tak rebah diterpa angin
tak runduk dilalui musim yang melapuk
berpasang-pasang burung-burung waktu berkelindan di dahannya
memeriahkan semacam musim pesta perkawinan
sebatang pohon sajak
tempat kepompong melekatkan sunyi
semedi dalam rumah penantian
memintal benang puisi menjadi sepasang sayap kupu-kupu
untuk terbang bebas mengitari rekah bibir bunga perindu
sebatang pohon sajak meranggaskan buah
disetiap musim, buah jatuh
bertunas dan tumbuh
berebut lahan di tanah jiwa yang lembab
berakar ke lapisan duka lara
yang terkubur dalam ceruk jiwa
payakumbuh, 1-04-14
Minggu, 30 Maret 2014
CERPEN FIRMAN NOFEKI DI KORAN SINGGALANG 31 MARET
TANAH MAKAM
Telah memasuki hari kedua tersiar kabar kematian anaknya di kota. Namun Wan Pito masih sempat melakukan aktifitasnya seperti biasa. Setelah selesai menyabitkan rumput untuk kerbau-kerbau nya, ia masih sempat turun kesawah siang ini. Memanen padi juragan Tohang yang dititipkan tempo hari. Begitu pula dengan istrinya, Sulastri. Semenjak ayam berkokok tadi pagi, ia telah sibuk meneteng sayuran kepasar. Bukan karena kedua orang tua itu tidak punya uang untuk berangkat ke kota, sekedar melayat dan mengurus jenazah anak laki-laki semata wayangnya itu. Apalagi untuk membawa jenazahnya pulang untuk dimakamkan di tanah dimana ia dulu dilahirkan, seperti yang diminta Salsabila, menantunya, yang tiada lain istri dari anak laki-lakinya yang sekarang telah meninggalkan dunia. Sungguh tidak mungkin. Ada semacam peristiwa kelam masa lalu yang menelan bulat-bulat hati kedua orang tua itu untuk membawa jenazah anak laki-laki nya itu pulang kekampung halaman.*
Angin berdesau lembut petang itu. Satu persatu para pelayat telah meninggalkan rumah Salsabila. perlahan, suara mulut yang berdecak membicarakan jenazah suaminya tidak lagi terdengar, seiring dengan melenyapnya suara langkah-langkah kaki di halaman. Namun pro dan kontra atas jenazah Samiri, suaminya, masih meletup-letup seperti hendak meledak saja. Tidak sedikit yang menggulirkan komentar-komentar miring.
Ada juga yang mengusulkan jenazah suaminya dikubur dipemakaman umum saja. Tapi ia sadar biaya membeli sepetak tanah makam dipemakaman umum bisa mencapai puluhan juta. Tentu ia tidak mempunyai uang untuk itu. Apalagi yang letaknya jauh kepusat kota, tentu membutuhkan proses yang rumit dan panjang.*
“Bil, bukan air mata dan sesal yang diharapkan suamimu, namun kesabaran dan ketegaran hatimu yang ia butuhkan”. Poniem mencoba menasehati. Namun sia-sia. Salsabila telah membawa rasa sesal dan kesedihan itu kembali kemasa lalunya.*
Salsabila mau tidak mau harus melepaskan keanggotaannya sebagai putri tunggal Datuk Bandaro Basa. Keputusannya untuk kawin lari dengan Samiri telah menyisakan dendam tersendiri dihati abahnya terhadap keluarga Samiri. Dendam pemimpin adat adalah dendam turunan. Ia memakai tangan adat untuk melampiaskannya kepada keluarga Samiri yang telah membawa kabur putri tunggalnya. Dendam untuk tidak menerima kehadiran Samiri kembali di kampung ini. Sampai ia telah mati sekalipun.*
“kasihan dirimu bang, kalau saja waktu serupa dalam dongeng-dongeng yang dibacakan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum tidur, tentu aku akan meminta untuk kembali kemasa sebelum kau menikahiku.
Akan kupersiapkan terlebih dahulu sepetak tanah makam untukmu, untukku dan anak-anak kita”.*
Malam itu. Purnama menangkap langkah seorang wanita yang berjalan mengendap menelusuri pekarangan masjid Babussalam. Kerudung putihnya menari diterpa angin. Cahaya purnama membingkai hitam bayang-bayang tubuhnya. sekilas orang-orang akan berfikiran kalau seseorang yang berjalan tengah malam kearah masjid adalah mereka yang hendak melaksanakan Qiyamullail. Namun tidak sedikitpun terlihat pertanda bahwa perempuan itu hendak memasuki masjid. Ia memutar langkah ke arah belakang masjid. Menelusuri rumput-rumput liar yang menjulang hingga mata kaki. Langkahnya berhenti diatas sebidang kecil tanah kosong. Pandangan matanya tertuju pada cangkul dan sebuah bungkusan besar yang dari awal sudah berada disana. Dari penutup bungkusan itu menjulur sebuah benda. Tangan manusia.*
SINGGALANG, 31 MARET 2013
Telah memasuki hari kedua tersiar kabar kematian anaknya di kota. Namun Wan Pito masih sempat melakukan aktifitasnya seperti biasa. Setelah selesai menyabitkan rumput untuk kerbau-kerbau nya, ia masih sempat turun kesawah siang ini. Memanen padi juragan Tohang yang dititipkan tempo hari. Begitu pula dengan istrinya, Sulastri. Semenjak ayam berkokok tadi pagi, ia telah sibuk meneteng sayuran kepasar. Bukan karena kedua orang tua itu tidak punya uang untuk berangkat ke kota, sekedar melayat dan mengurus jenazah anak laki-laki semata wayangnya itu. Apalagi untuk membawa jenazahnya pulang untuk dimakamkan di tanah dimana ia dulu dilahirkan, seperti yang diminta Salsabila, menantunya, yang tiada lain istri dari anak laki-lakinya yang sekarang telah meninggalkan dunia. Sungguh tidak mungkin. Ada semacam peristiwa kelam masa lalu yang menelan bulat-bulat hati kedua orang tua itu untuk membawa jenazah anak laki-laki nya itu pulang kekampung halaman.*
Angin berdesau lembut petang itu. Satu persatu para pelayat telah meninggalkan rumah Salsabila. perlahan, suara mulut yang berdecak membicarakan jenazah suaminya tidak lagi terdengar, seiring dengan melenyapnya suara langkah-langkah kaki di halaman. Namun pro dan kontra atas jenazah Samiri, suaminya, masih meletup-letup seperti hendak meledak saja. Tidak sedikit yang menggulirkan komentar-komentar miring.
“Kasihan ya Samiri. Hidup sudah di uji, matipun di uji juga”
“la, itu teh wajar atuh, nikah saja tidak
direstui orang tua, masuk kenegeri orang tidak mematuhi peruman adat
pula. Itu sudah hukuman dari roh leluhur karena ia masuk kekampung ini
tidak melakukan pemurnian darah terlebih dahulu”
Pemurnian darah yang mereka maksud adalah
seorang laki-laki baru bisa dikatakan bebas dari tuntutan peruman adat
jika ia telah melakukan ikatan darah dengan gadis dikampung tersebut,
alias ia harus menikah dengan kadis dikampung itu, kampung Rejo. Kalau
tidak, maka ketika ia telah meninggal dunia maka jenazahnya harus
kembali dipulangkan ketanah asalnya. Tapi bagaimana mungkin ia sebagai
gadis minang, yang telah mati-matian mempertahankan cinta mereka
sampai harus terusir dari kampung halaman begitu saja merelakan
suaminya bermadu dihadapannya.
Namun, ingin rasanaya Salsabila menyumpal
mulut orang-orang yang berkomentar miring seperti itu. Kalau saja ia
tidak ingat sedang berada dihadapan peti jenazah suaminya, mungkin
jari-jari tangannya telah beralih mencakar muka orang-orang tersebut.
Tapi tentu ia masih orang yang punya rasa malu dan harga diri. Tidak
ingin ia merendahkan dirinya dihadapan jenazah suaminya, sekalipun ia
telah tiada.
Diantara yang lain, ada juga yang menyuguhkan komentar positif dan ikut memberikan solusi jalan keluar.
“Sabar ya Bil ! ini teh ujian dari gusti
Allah. Nanti kami akan coba membantu berunding dengan tetua adat agar
suamimu bisa diizinkan dimakamkan dikampung kita ini”.
Salsabila hanya tersenyum tipis. Sekalipun
ia juga berharap demikian, namun disisi lain hati terdalamnya ia
mengeluh,’’itu tak akan mungkin terjadi.
Ada juga yang mengusulkan jenazah suaminya dikubur dipemakaman umum saja. Tapi ia sadar biaya membeli sepetak tanah makam dipemakaman umum bisa mencapai puluhan juta. Tentu ia tidak mempunyai uang untuk itu. Apalagi yang letaknya jauh kepusat kota, tentu membutuhkan proses yang rumit dan panjang.*
Sekarang jenazah ditengah rumah itu
benar-benar telah kehilangan pelayatnya. Cuma air mata Salsabila dan
suara bacaan Yasinnya yang setia melayat. Dibelakang, ada Poniem, teman
baiknya yang setia membantu menyiapkan segala sesuatu keperluannya.
Poniem yang awalnya bukan siapa-siapa telah dianggap malaikat oleh
Salsabila. Ia dan suaminya semula tidak punya tempat tingal dikota,
lewat Poniem lah rumah petak kecil yang semula ruko ini dikontrakkan
untuk mereka.
“Sudah kau coba hubungi lagi keluarga di kampung bil?”
Poniem yang sedari tadi dibelakang tiba-tiba saja sudah berada disamping Salsabila.
“sudah kak”.
“lalu apa tanggapan mereka?”
Usai poniem bertanya demikian ada yang
berubah dengan reaksi Salsabila. Cuma gelengan pelan yang ia berikan
sebagai jawaban. Poniem yang sangat mengerti dengan maksud gelengan itu
tidak berani lagi melanjutkan pertanyaan. Sunyi yang sedari tadi pias
berganti sedu sedan. Salsabila merunduk. Kedua tangan ia tangkupkan
kewajah. Seolah ia tidak lagi punya muka untuk dihadapkan kepada jasad
suaminya.
“aku tahu, hukum adat terkadang memang
kejam, Bil”. Bahkan mampu bertahta diatas hukum agama. Berdo’alah !
semoga tetua adat dan orang-orang kampung ini dibukakan hati mereka”,
ujar Poniem sambil terus setia tangannya mengelus punggung sahabatnya
itu.
Namun kesedihan yang sa’at ini ia alami
telah membasahi puncak kesabarannya. Tak ia pedulikan lagi keadaan
yang sekarang memukulnya. Tak ia hiraukan jenazah Samir yang terbujur
kaku dihadapannya “ini salahku, kak ! kalau saja dulu aku tak
memaksanya untuk mengawiniku, kalau saja dulu aku tak memenuhi
keinginan untuk kawin lari bersamanya, tentu akan banyak tanah makam
yang setia menjadi tempat peristirahatan terakhirnya”. Seluruh kalimat
yang terlontar berpadu sedu sedan dan air mata. Ditepiskannya pelukan
poniem dari bahunya, dan berlari ke kamar.
Poniem yang tidak menyangka akan begitu
reaksi Salsabila berusaha mengikutinya. Suara pintu yang dibanting
memotong langkahnya, ia hanya berdiri di depan pintu kamar yang sudah
dikunci dari dalam.
“Bil, bukan air mata dan sesal yang diharapkan suamimu, namun kesabaran dan ketegaran hatimu yang ia butuhkan”. Poniem mencoba menasehati. Namun sia-sia. Salsabila telah membawa rasa sesal dan kesedihan itu kembali kemasa lalunya.*
Tepat 10 tahun silam, bibit-bibit cinta itu
telah menemukan ladang nya, dan bersemi. Namun bagi masyarakat
kampung, terutama ayah salsabila sebagai penghulu adat, cinta mereka
adalah musibah.
“bagaimana ini bisa terjadi ? adat
diletakkan sebagai hukum utama. Tetua adat selalu menggunakan hukum
adat untuk menghantam warga pelarian seperti dirinya. Diminang ataupun
disini sama saja. Adat digunakan sebagai pelarian dari hukum syari’at.”,
ujarnya dalam hati.
Masih kental di iingatan Salsabila
bagaimana ayahnya yang seorang pemimpin adat bercekok lidah dengan
keluarga Samiri sebab keinginan mereka untuk menikah. Terus terang
ayahnya yang seorang pemimpin adat begitu menentang, dan mencap
pernikahan mereka akan menjadi kutukan bagi generasi berikutnya. Kecuali
kalau Samiri mampu menyemblih seekor kerbau putih, yang darahnya
dianggap sebagai pemurni hukum dan penebus kutukan bagi keturunan.
Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang perkawinan sesuku adalah hal
yang sangat dilarang di minangkabau.
Dikampungnya ada sebuah cerita yang sangat
popular. Cerita tentang sumiran dan saritem yang berani menikah sesuku.
Sehingga setiap kali Saritem melahirkan anaknya selalu tewas
menggenaskan . kata orang tua tua dimangsa Situah, harimau jadi-jadian
yang amat popular di Minangkabau.
Namun angin-angin cinta yang berhembus
mesra dari sepasang hati dua sejoli itu sudah tidak dapat ditepiskan
kedatangannya. Angin itu jualah yang bisa menggugurkan titah adat
diladang cinta mereka. Dan angin itu jua yang telah melemparkan dua
sejoli itu ke kampung Rejo ini. Sebuah kampung dipedalaman pulau jawa
yang begitu tinggi menjunjung nilai-nilai estetika klasik titah nenek
moyang yang masqul dihukum-hukum adat.
Salsabila mau tidak mau harus melepaskan keanggotaannya sebagai putri tunggal Datuk Bandaro Basa. Keputusannya untuk kawin lari dengan Samiri telah menyisakan dendam tersendiri dihati abahnya terhadap keluarga Samiri. Dendam pemimpin adat adalah dendam turunan. Ia memakai tangan adat untuk melampiaskannya kepada keluarga Samiri yang telah membawa kabur putri tunggalnya. Dendam untuk tidak menerima kehadiran Samiri kembali di kampung ini. Sampai ia telah mati sekalipun.*
Ternyata perundingan dengan Empu Kromo
hanya menghasilkan keputusan, bahwa jenazah suaminya itu harus segera
dibawa pulang ke kampung halaman. Ia memberikan waktu tenggang satu hari
lagi untuk prosesi. Salsabila sudah memohon agar titah adat dapat
diputihkan sehingga jenazah suaminya dikubur dikampung Rejo ini saja.
Namun Empu Kromo tidak menyahut.
“Saya tidak bisa seenaknya merubah aturan
yang sudah berlaku. Ini sudah peruman adat. Salah suamimu sendiri kenapa
dulu tidak mematuhi aturan adat kampung ini.” Ujar Empu Kromo dengan
nada bicara yang menunjukkan ketidak senangan dengan Salsabila.
Perkataan Empu Kromo itu seperti hendak
menyuntikkan amarah dilubuk hatinya. Bagaimana mungkin dulu ia
mengizinkan suami yang begitu dicintainya menikah lagi dengan perempuan
kampung ini hanya untuk sebuah alasan yang ia anggap begitu tidak
penting. Hanya untuk sebuah ritual pemurnian hukum adat.
Salsabila merasa percuma berunding dengan orang seperti Empu Kromo.
Seharusnya sebagai tetua adat tidak menjadi matoritas yang menekan
kelompok minoritas seperti dirinya.*
Dan Ini tepat hari ke tiga kematian samiri.
Pertanyaan risih tentang kapan jenazahnya akan dikuburkan terus
berdecakan dari mulut-mulut warga. Pertanyaan yang menambah
lilitan-lilitan masalah difikirannya. Sebagai warga pelarian, Salsabila
berfikiran adatlah yang selama ini menjadi pemusnah tatanan sosial
kehidupan. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak lagi bernyawa terus
diikat raganya dengan hukum-hukum tersebut. Sanksi yang telah
memperlakukan suaminya secara hina. Sanksi yang seharusnya tidak lagi
pantas ditegakkan pada jasad yang tidak lagi terikat dengan kehidupan
dunia.
Diluar, rinai menghantarkan suasana makin
cepat jadi gelap. Salsabila hanya terdiam, tak kuasa lagi menjawab
suara-suara putus asa dari hatinya. Kepalanya mulai terasa berdenyut. Ia
beristighfar dalam hati. Rasa sedih dan dendam menelan bulat-bulat
hatinya. Tanpa sadar tangannya telah memeluk peti mati dihadapannya.
Dalam peti itu sesosok tubuh kaku sedang menunggu nasib. Menatap rohnya
yang terkatung-katung dipintu langit. Dari tempat itu ia tentu maih
bisa mendengar tangin penyesalan Salsabila.
“kasihan dirimu bang, kalau saja waktu serupa dalam dongeng-dongeng yang dibacakan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum tidur, tentu aku akan meminta untuk kembali kemasa sebelum kau menikahiku.
Akan kupersiapkan terlebih dahulu sepetak tanah makam untukmu, untukku dan anak-anak kita”.*
Malam itu. Purnama menangkap langkah seorang wanita yang berjalan mengendap menelusuri pekarangan masjid Babussalam. Kerudung putihnya menari diterpa angin. Cahaya purnama membingkai hitam bayang-bayang tubuhnya. sekilas orang-orang akan berfikiran kalau seseorang yang berjalan tengah malam kearah masjid adalah mereka yang hendak melaksanakan Qiyamullail. Namun tidak sedikitpun terlihat pertanda bahwa perempuan itu hendak memasuki masjid. Ia memutar langkah ke arah belakang masjid. Menelusuri rumput-rumput liar yang menjulang hingga mata kaki. Langkahnya berhenti diatas sebidang kecil tanah kosong. Pandangan matanya tertuju pada cangkul dan sebuah bungkusan besar yang dari awal sudah berada disana. Dari penutup bungkusan itu menjulur sebuah benda. Tangan manusia.*
Keesokan paginya warga desa Rejo digegerkan
dengan peristiwa yang mereka anggap paling keji sepanjang manusia
menghuni desa mereka. Dari ba’da subuh warga terus berdatangan memenuhi
area masjid yang sudah diberi jalur kuning oleh polisi. Berawal dari
laporan seorang jama’ah kepada Engku Kromo, berkenaan dengan bau busuk
yang bersumber dari pekarangan dibelakang masjid. Seperti bau bangkai.
Bangkai manusia, ujarnya.
Pekarangan kosong dibelakang masjid itu
telah berubah sebuah gundukan. Beberapa batang kamboja ditancapkan
disana. Tampaknya belum terlalu lama ditanam. Daun-daunnya pun tanpak
layu dan berguguran ditanah.
Beberapa orang polisi mulai menggali.
Diduga dari gundukan tanah itulah bau busuk dan menyengat itu berasal.
Belum terlalu dalam menggali mata cangkul meraka menyentuh sebuah benda
yang dibungkus rapat. Setalah diangkat bau busuk itu makin menyengat.
Perlahan pengikat bungkusan itu dibuka. Terdengarlah suara mulut
berdecakan menyebut nama Salsabila.
Empu Kromo terlihat begitu marah dan
mengutuk. Ia memerintahkan kepada polisi untuk menangkap wanita yang
telah menebarkan bau busuk sekaligus kutukan bagi desa mereka. (***)SINGGALANG, 31 MARET 2013
Selasa, 25 Maret 2014
KATA-KATA MUTIARA
JENDELA JIWA
* menulislah dg kepolosan dan kejujuran hati, serta kesederhanaan pemikiran. itulah nyawa bagi mata pena. dan tinta akan memberikan sikap yg baik bagi kata-kata. (firman nofeki)
* pohon masalah selalu menyembunyikan buah yang manis. kadang kita harus menunggu buah itu matang dan jatuh agar dapat merasakan betapa manisnya ia. (firman nofeki)

*jika kau telah berhasil menggapai mimpimu yg menggantung setinggi bintang di langit, jangan lupa menginjakkan kakimu kembali ke bumi. Biar kukatakan sebuah realita kepadamu, '' jatuhnya orang-orang besar karena kesombongan''. di langit apa yg ada di bumi memang terlihat begitu kecil, namun jauh di bumi kau tak beda jauh hanya tampak kerdil seperti sebutir pasir, bahkan lebih kecil. (firman nofeki)
*jangan suka meremehkan kelemahan orang lain. Sebab jika kata remeh anda itu menjadi kendaraan motivasi baginya, anda akan ditabrak oleh perkataan anda sendiri. (firman nofeki)
*waktu memang serupa air mengalir menuju ke satu muara yg sama, namun orang-orang yg berani berjalan menentang aruslah yg akan selamat menyeberang ke seberang. kita tidak pernah tahu dihitungan keberapa kita akan sampai, namun tidak perlu menunggu titik akhir untuk harus bahagia. nikmati setiap gelitik dingin airnya, resapi birama gemerciknya beradu batu2 sungai yg terjal, jalani setiap hitungan dan langkah dg kesyukuran, insya'allah kesedihan, kekecewaan, dan rasa putus asa akan larut terbawa arus air. (firman
nofeki)
*memang tiada kata dua kali untuk kesempatan yang sama, namun Allah membuka beribu-ribu pintu untuk kesempatan baru. Hanya manusia yg lemah dan punya sifat putus asalah yg mengatakan ''kesempatan hanya sekali'', yang sekali hanyalah kesempatan utk hidup di dunia ini, namun ada banyak kesempatan dan cara utk membuat hidup ini menjadi lebih baik dan berarti. (firman nofeki)
*mungkin benar kata org2 kalau hidup itu adalah pilihan, namun tak ada yg pernah bisa memilih pada rahim siapa dan pada keluarga mana ia dilahirkan. Bamun kita telah menjadi orang yg telah dipilih untuk hidup, mengarungi kehidupan ini dengan perjuangan, keikhlasan dan kesyukuran. hidup mungkin memang pilihan kawan, namun pilihan bagaimana nanti engkau dikembalikan, ''syurga, atw nereka'', dunia inilah tempat memilihnya (firman nofeki)
* menulislah dg kepolosan dan kejujuran hati, serta kesederhanaan pemikiran. itulah nyawa bagi mata pena. dan tinta akan memberikan sikap yg baik bagi kata-kata. (firman nofeki)
* pohon masalah selalu menyembunyikan buah yang manis. kadang kita harus menunggu buah itu matang dan jatuh agar dapat merasakan betapa manisnya ia. (firman nofeki)

*jika kau telah berhasil menggapai mimpimu yg menggantung setinggi bintang di langit, jangan lupa menginjakkan kakimu kembali ke bumi. Biar kukatakan sebuah realita kepadamu, '' jatuhnya orang-orang besar karena kesombongan''. di langit apa yg ada di bumi memang terlihat begitu kecil, namun jauh di bumi kau tak beda jauh hanya tampak kerdil seperti sebutir pasir, bahkan lebih kecil. (firman nofeki)
*jangan suka meremehkan kelemahan orang lain. Sebab jika kata remeh anda itu menjadi kendaraan motivasi baginya, anda akan ditabrak oleh perkataan anda sendiri. (firman nofeki)
*waktu memang serupa air mengalir menuju ke satu muara yg sama, namun orang-orang yg berani berjalan menentang aruslah yg akan selamat menyeberang ke seberang. kita tidak pernah tahu dihitungan keberapa kita akan sampai, namun tidak perlu menunggu titik akhir untuk harus bahagia. nikmati setiap gelitik dingin airnya, resapi birama gemerciknya beradu batu2 sungai yg terjal, jalani setiap hitungan dan langkah dg kesyukuran, insya'allah kesedihan, kekecewaan, dan rasa putus asa akan larut terbawa arus air. (firman
nofeki)
*memang tiada kata dua kali untuk kesempatan yang sama, namun Allah membuka beribu-ribu pintu untuk kesempatan baru. Hanya manusia yg lemah dan punya sifat putus asalah yg mengatakan ''kesempatan hanya sekali'', yang sekali hanyalah kesempatan utk hidup di dunia ini, namun ada banyak kesempatan dan cara utk membuat hidup ini menjadi lebih baik dan berarti. (firman nofeki)
*mungkin benar kata org2 kalau hidup itu adalah pilihan, namun tak ada yg pernah bisa memilih pada rahim siapa dan pada keluarga mana ia dilahirkan. Bamun kita telah menjadi orang yg telah dipilih untuk hidup, mengarungi kehidupan ini dengan perjuangan, keikhlasan dan kesyukuran. hidup mungkin memang pilihan kawan, namun pilihan bagaimana nanti engkau dikembalikan, ''syurga, atw nereka'', dunia inilah tempat memilihnya (firman nofeki)
Minggu, 23 Maret 2014
LAILA MAJNUN (PUISI INI TERINSPIRASI DARI NOVEL ''LAILA MAJNUN'')
MATA LAILA
''ini adalah sehelai kertas kesedihan, yang ditulis oleh jiwa yang dipenuhi duka cita kepada jiwa yang lainnya.
ia datang dariku, seorang tawanan, dan ditujukan kepadamu, kau yang telah berhasil menghancurkan belenggumu dan meraih kemerdekaan.
sudah berapa lamakah kekasihku, aku mengikat tali cintaku kepadamu? berapa banyak hari-hari yang tanpa makna? berapa banyak malam yang dilalui dengan air mata semenjak itu?
apa kabarmu wahai belahan jiwa? dan bagaimana kau melewati hari-hari mu? kemanakah ketujuh langit penuntun di langit telah membawamu? aku tahu bahwa kau masih tegar berdiri menjaga harta persahabatan kita. Dan kurasakan di dalam hatiku bahwa cinta memperoleh keagungannya semata-mata darimu''
(surat Laila kepada Majnun)
serupa balasan surat mu, Laila
aku awali sajak ini dengan menyebut nama Sang Raja
demih roh, hati dan cintaku yang ada dalam genggaman-Nya
Dia yang telah menyandingkan kesunyian dengan kata
menyandingkan malam dengan gulita
menyandingkan rembulan dengan cahaya
sebab itu aku tak begitu heran, bila setiap memandangmu
gelap dan buta tercerai dari jiwa
sebab matamu, Laila
adalah perpaduan malam, rembulan dan cahaya
sepasang matamu, adalah jendela menuju jiwamu
sungguh aku begitu ingin mengintipnya
bermain dalam pusaran mata airnya
aku telah menari bertahun-tahun
di atas pecahan kaca dan bara
bersama melodi yang tersayat dari aliran darah
bersama genderang yang ditabuh tangan-tangan luka di bilik jantung
ini melodi penyambutan untuk mu, Laila
;sang malaikat maut yang sanggup mencabut kegelapan duka pada nyawa
peluklah kesendirianku, Laila
beri setitik arwah pada kematianku
agar aku mampu berjalan, mengantarmu pada kisah
bagaimana aku terdampar terlalu lama
menghitung tiap butir pasir di gurun ini
mencoba berdiri, kemudian terjerembab
menantang garangnya kerikil sahara menikungi mata kaki
melambai harapan pada hari depan yang setengah hati berdiri
dekap kesunyianku, Laila
beri sehembus nafas bagi jiwaku yang sakratul
agar ku mampu bercerita
;bagaimana cinta adalah api, aku adalah kayu yang lebur menjadi abu oleh nyalanya
lakukan ini untuk Tuhan
dan demi cinta kita kepada-Nya
jika kehidupan adalah takdir, Laila
mengapa takdir dan kehidupan tidak pernah sama?
disini kehidupan adalah kematian bagi pengelana yang resah
menggali kubur bagi jiwa yang hancur, lemah, dan berdarah
sedang disisi lain, kematian adalah kehidupan
kehidupan adalah keabadian
tempat dimana tak ada cahaya yang akan memudar
tak ada kegelapan tempat ku biasa menatap matamu di balik jendela kedukaan
disanalah Laila
tempat kau akan terus bersinar
melenyapkan kedukaan hati dari jiwaku yang majnun ini
Padang, 27-12-13
''ini adalah sehelai kertas kesedihan, yang ditulis oleh jiwa yang dipenuhi duka cita kepada jiwa yang lainnya.
ia datang dariku, seorang tawanan, dan ditujukan kepadamu, kau yang telah berhasil menghancurkan belenggumu dan meraih kemerdekaan.
sudah berapa lamakah kekasihku, aku mengikat tali cintaku kepadamu? berapa banyak hari-hari yang tanpa makna? berapa banyak malam yang dilalui dengan air mata semenjak itu?
apa kabarmu wahai belahan jiwa? dan bagaimana kau melewati hari-hari mu? kemanakah ketujuh langit penuntun di langit telah membawamu? aku tahu bahwa kau masih tegar berdiri menjaga harta persahabatan kita. Dan kurasakan di dalam hatiku bahwa cinta memperoleh keagungannya semata-mata darimu''
(surat Laila kepada Majnun)
serupa balasan surat mu, Laila
aku awali sajak ini dengan menyebut nama Sang Raja
demih roh, hati dan cintaku yang ada dalam genggaman-Nya
Dia yang telah menyandingkan kesunyian dengan kata
menyandingkan malam dengan gulita
menyandingkan rembulan dengan cahaya
sebab itu aku tak begitu heran, bila setiap memandangmu
gelap dan buta tercerai dari jiwa
sebab matamu, Laila
adalah perpaduan malam, rembulan dan cahaya
sepasang matamu, adalah jendela menuju jiwamu
sungguh aku begitu ingin mengintipnya
bermain dalam pusaran mata airnya
aku telah menari bertahun-tahun
di atas pecahan kaca dan bara
bersama melodi yang tersayat dari aliran darah
bersama genderang yang ditabuh tangan-tangan luka di bilik jantung
ini melodi penyambutan untuk mu, Laila
;sang malaikat maut yang sanggup mencabut kegelapan duka pada nyawa
peluklah kesendirianku, Laila
beri setitik arwah pada kematianku
agar aku mampu berjalan, mengantarmu pada kisah
bagaimana aku terdampar terlalu lama
menghitung tiap butir pasir di gurun ini
mencoba berdiri, kemudian terjerembab
menantang garangnya kerikil sahara menikungi mata kaki
melambai harapan pada hari depan yang setengah hati berdiri
dekap kesunyianku, Laila
beri sehembus nafas bagi jiwaku yang sakratul
agar ku mampu bercerita
;bagaimana cinta adalah api, aku adalah kayu yang lebur menjadi abu oleh nyalanya
lakukan ini untuk Tuhan
dan demi cinta kita kepada-Nya
jika kehidupan adalah takdir, Laila
mengapa takdir dan kehidupan tidak pernah sama?
disini kehidupan adalah kematian bagi pengelana yang resah
menggali kubur bagi jiwa yang hancur, lemah, dan berdarah
sedang disisi lain, kematian adalah kehidupan
kehidupan adalah keabadian
tempat dimana tak ada cahaya yang akan memudar
tak ada kegelapan tempat ku biasa menatap matamu di balik jendela kedukaan
disanalah Laila
tempat kau akan terus bersinar
melenyapkan kedukaan hati dari jiwaku yang majnun ini
Padang, 27-12-13
Sabtu, 22 Maret 2014
ELEGI PATAH HATI
karya : firman nofeki
pada helai-helai angin yang kusut
tanganmu melipat waktu
sementara, selendangmu terbang menutupi matahari
siang terlambat pulang
malam yang tidur lupa cara berdiri
; mengemasi mimpi-mimpi
di langit kamar, kabut membuhul kelam di benang mata
sebab setiap sudut selendangmu, sayang
telah menutupi segalanya
dengan nyala sebatang lilin, kucari kota yang hilang
cahayanya menyisir tepian langit
mengurai langkahmu
kutemukan kota itu, menggantungi buhul hujan
derasnya menyentak pundak langit
langit rubuh, menghantak redam hati bumi
diantara langit yang retak, sayang
kau sandingi bintang-bintang
sedang aku, kau cemburui memacari matahari
payakumbuh 19-03-14
pada helai-helai angin yang kusut
tanganmu melipat waktu
sementara, selendangmu terbang menutupi matahari
siang terlambat pulang
malam yang tidur lupa cara berdiri
; mengemasi mimpi-mimpi
di langit kamar, kabut membuhul kelam di benang mata
sebab setiap sudut selendangmu, sayang
telah menutupi segalanya
dengan nyala sebatang lilin, kucari kota yang hilang
cahayanya menyisir tepian langit
mengurai langkahmu
kutemukan kota itu, menggantungi buhul hujan
derasnya menyentak pundak langit
langit rubuh, menghantak redam hati bumi
diantara langit yang retak, sayang
kau sandingi bintang-bintang
sedang aku, kau cemburui memacari matahari
payakumbuh 19-03-14
DARAH DAGING
karya : firman nofeki
akulah daging dan darah yang pernah mengakar di pohon rahimmu)diatas lautan darah, aku berlayar di rahimmu
di gelombang tubuhmu, ibu
kapal-kapal sejarah berlabuh mengangkut titah sulbi
tentang rahasia isi rahim, yang membawa kebahagiaan bagi tanah kelahiran
di tulang dadamu, ibu, ombak pasang surut
tubuhku terseret dan menemu sebuah pintu
yang kau sembunyikan di balik lorong waktu
di pohon rahim mu darah seakar dengan daging
mereka denyut yang hidup mengilhami titah jantung
besar dan tumbuh meretakkan dinding waktu
ditempat itu usiaku menetas
berumah di cangkang perutmu
mengunyah saripati hidup yang menempeli rahim serupa lumut
di tempat itu pula, ibu, jemariku menenung bulan-bulan
menjadi tangis kenakalan
penjenguk harumu yang berdiri di balik liang waktu
sa’at sejarah menepi, dan aku terlempar jatuh ke bumi
pernahkah kau ilhami tangis itu sebagai ungkapan hatiku
;akulah air kehidupan yang memancar dari sulbi
akulah darah dan daging yang pernah tumbuh dan mengakar di rahimmu
ibu
payakumbuh, 20-03-14
Langganan:
Postingan (Atom)




