Minggu, 17 Agustus 2014

CERPEN FIRMAN NOFEKI DALAM BUKU ANTOLOGI CERPEN '' PERAHU TULIS ''

ANTOLOGI CERPEN REMAJA SUMATERA BARAT '' PERAHU TULIS ''






LILIN-LILIN KERTAS

            ‘’Apa yang akan kau fikirkan,ketika kertas dan lilin-lilin ini menyatu’’?
‘’Aku yakin, kertas ini akan menjadi abu,dan lilin-lilin ini akan lekas mencair tanpa perlu menunggu waktu’’.
Seketika tangan-tangan itu memeluk tubuh mungilku. Serentak menciumi pipi dan keningku. Kedua pipiku hangat disirami air mata mereka yang menggelegak bahagia.
Lembaran-lembaran kertas itu menggigil ditiup angin. Sesekali berhamburan menabrak dinding-dinding kayu. Perlahan alunan lagu ‘’HAPPY BIRTHDAY’’ mengalun dalam ruangan 4x4  itu.
‘’Jadilah lilin-lilin itu,anakku ! yang tidak pernah habis sebesar apapun api membakarmu. Jangan kau menjadi kertas ! meskipun kecil api yang membakar, kau akan tetap sirna sebagai abu’’.
Amak memandangku lekat-lekat. Kedua tangannya kini berada dikedua pipiku. Kemudian kami bertiga berangkulan dalam tawa bercampur air mata.

Ah… tapi itu dulu kawan. Sebelum kenagan-kenangan itu sempat kubakar menjadi masa lalu.

*
            Hujan baru saja reda. Tinggal sisa-sisa gerimis kecil, dan bau lembab udara menempel sebentuk bulatan kristal  dikaca jendela koridor. Kulirik arloji, jam menunjukkan angka 16:30 wib. Dua jam lebih aku terkurung hujan deras,sendirian di bangku koridor sekolah. Kuhentikan suara harmonika yang menyayat. Kutatap langit. Senja perlahan menyelimuti kota. Masih bewarna keruh,bukan keemasan. Masihkah langit menyimpan bubuk hujan, yang siap turun kapan saja. Tanpa terus berfikir,segera kukejar waktu. Jalanan terasa licin dan berlenyah. Roda sepeda ontel ini menjerit setiap kali ku percepat putarannya. Usia yang sudah seperempat abad membuat jari-jarinya mulai mengerut. Sebagian bautnya sudah longgar,bahkan ada yang tanggal. Warisan dari kakek kepada abah. Dari abah diwariskan kepadaku. Kelak, jika masih panjang usianya akan kuwariskan lagi kepada anak-anak dan cucuku. Agar pewarisnya selalu dikenang sepanjang masa.
            Diseberang jalan, anak-anak telah ramai pergi mengaji. Wan Nipah melambai dari jenjang surau. ‘’ ndak kesurau kau ing’’?
‘’Yo, sabanta lai’’.
Wan nipah masuk kedalam surau. Biasanya dia akan mengaji lima belas menit sebelum adzan dikumandangkan. Senja begitu suram. Begitu buram. Tapi aku bisa menangkap cahaya dari mata amak,melihat anak semata wayangnya ini pulang agak terlambat.
‘’Mak sudah siapkan air hangat untuk mandi,lekaslah’’ !
‘’iya mak’’. Aku mencium tangan amak yang berbau asap. Berarti amak baru saja dari dapur. Dari balik serambi, telingaku menangkap alunan melodi khas minang dari saluang abah. Menikmati senja dengan irama saluang, sambil memandangi hamparan sawah dan gunung-gunung yang berdiri megah adalah kenikmatan tersendiri bagi abah.
*
            ‘’Sudahkah kau beri makan anjing-anjing itu Sum’’? wanita yang acap kali dipanggil Sum itu terperanjat. Baki yang berisi piring-piring kotor ditangannya hampir jatuh, pecah berserakan. Kemudian bergegas kebelakang. Dengan wajah gugup dibawanya dua mangkok makanan anjing,dan ia masukkan kekandangnya. Mak hampir terjerembab menaiki tangga ketika anjing-anjing itu dengan kerasnya menyalak. Marah karena jatah makannya terlambat pagi ini.
            Kadang, aku kasihan melihat amak, yang diam-diam membekam air mata dibalik kulit-kulit tuanya yang mulai keriputan. Seolah kami menjadi kambing hitam dari PHK yang dialami abah lima tahun silam. Di PHK dari perusahan marmer milik belanda di Aceh, yang mengalami kerugian besar akibat tsunami. Seolah menjadi meriam hitam bagi abah. Acap kali meledak, menggoncang seisi rumah. Kamilah korban yang menelan abu dari ledakan amarah yang sungguh dahsyat.
Kehidupan kami berubah 180 derajad. Rumah di aceh dijual. Rumah berukuran 6x4 inilah hasil dari penjualan itu. Dan dua petak sawah yang yang kini masih tergadai ditangan Wak Ramlan. Rumah yang tidak secara penuh ditutupi atap. Bila hujan deras mengguyur,kami terpaksa hidup mengendap-endap dalam semesta yang lembab. Merayap-rayap dalam gelap. Maklum,listrik memang belum sempat menyentuh kampung kami. Sering terbayang dalam fikiran untuk kembali hidup berkecukupan. Sering aku mendengar sendok berdenting menyentuh piring. Decak mulut yang dipenuhi makanan dan sendawa. Berbincang-bincang sambil menonton televisi. Semua adalah hayal yang bermedan dalam frustasi.
           
Dirumah kayu inilah kami hidup dan bernafas. Bergerak dan beraktivitas. Pada mulanya memang terasa menyiksa. Punggung terasa pegal bangun di pagi hari, karena harus tidur di atas dipan beralaskan kayu dan jerami. Meskipun selalu kedinginan,alhamdulillah kami masih bisa makan. Meskipun kadang Cuma sekali sehari. Hasil pekerjaan amak sebagai petani garapan tidaklah seberapa. Dengan kebiasaan menyisihkan segenggam beras setiap kali tanak mampu menjadi penolong ketika beras dalam buntil benar-benar telah habis.
 Bila memang tidak ada yang akan dimakan, amak biasanya akan membacakan sajak untukku. Kamipun akan terlelap dalam rintihan perut menahan lapar.

Coba lihat nak,coba lihat
Karung beras yang menganga disudut lumbung
Dan periuk kita menggelegak menanak remah harapan
Akan kau dengar anakku,deraman-deraman nakal disisi lambungmu
Coba lihat nak
Bara kehilangan api
Cerobong kehilangan asap
Buntil-buntil melapuk dimakan cuaca
Tapi cukuplah anakku, keringat putihmu yang kau rasai
Dan dingin jemariku menyentuhmu hingga esok pagi

*
            ‘’Sudah kembali abah dari rumah Wak Ramlan itu bah’’?
‘’sudah, Wak Ramlan bilang sudah menyewa organ tunggal untuk alek anaknya nanti.’’
Suara abah lirih. Matanya cekung lurus menyapa langit-langit. Dihisapnya cerutu kuat-kuat. Asap-asap putih mengepul di udara. Berangsur-angsur hilang terbawa angin. Lenyap bersamaan dengan beban fikiran. Amak hanya terdiam,tidak kuasa lagi menjawab suara putus asa abah. Kepalanya terus menekur pada kain sarimin ditangannya. Sebentar-sebentar ia berhenti. Berdiri mendekati jendela. Menembus pandangan melalui kaca yang sebagian pecah dan retak. Menatap kaki gunung Sago yang menancap kuat hingga ke ulu hati. Padi-padi merunduk menahan beban. Sebuah serambi kayu disudut rumah kini bisu. Kedinginan ditempatnya.
*
            ‘’Minangkabau tanpa saluang tidak bisa lagi disebut minang. Minang akan hilang,akan tinggal kabau yang sangat sulit ditusuk hidungnya. Keras. Sama seperti hati orang-orang minang masa kini,yang tidak pernah lagi tersentuh budaya-budaya minang.’’
Aku teringat percakapan dengan abah diserambi sebulan lalu. Begitu kuat budaya minang ini mengakar kehatinya. Lebih kuat lebih kuat dari akar-akar pinus yang menancap dilereng-lereng gunung Sago.
            Di PHK dari perusahan marmer membunuh semangat hidup abah. Lebih banyak mengurung diri,seperti matahari yang kehilangan timur untuk terbit. Sejak itulah hidupku dihiasi cerita-cerita yang keluar dari bibirnya. Cerita tentang saluang sebagai budaya minang yang harus dilestarikan. Kadang-kadang cerita tentang binatang buruannya yang lari ke arah rimba. Dicabik-cabik sepuluh ekor anjing sekaligus.

Sering terdengar suara piring dibanting,atau gelas pecah bergeming jika perburuannya gagal.
‘’harusnya abah bekerja,bukannya menghabiskan waktu untuk berburu yang tidak ada manfaatnya’’.
‘’Jangan kau menceramahiku Sum’’, PLAKK’’
Tempeleng itu meluncur bak roket berkekuatan 235 Km per jam.  Maka akan terdengar suara pintu dibanting. Tangis amak akan pecah menyapu langit.
            Jati diri abah perlahan muncul semenjak bergabung dengan grup randai Haji Romlan sebagai pemain saluang. Grup ini begitu tenar dimasyarakat. Tapi Cuma dua tahun, sebelum organ tunggal memasuki kampung kami. Banyak grup-grup saluang dan randai mulai gulung tikar. Sekarang, dimana ada perhelatan pasti akan dihiasi dengan organ tunggal. Penduduk kampung akan membawa anak-anak mereka untuk menonton.bahkan sampai bergadang hingga larut malam. Yang mereka saksikan bukanlah musik atau nyanyiannya, tapi artis-artis berpakaian seksi yang meliuk-liuk di atas pentas. Kalaupun ada acara saluang paling yang akan menonton hanyalah bapak-bapak tua yang memang hatinya telah melekat dengan saluang. Biasanya yang masih bersedia memanggil saluang untuk helat hanyalah penduduk yang ekonomi rendah yang tidak mampu memanggil organ tunggal yang ongkos sewaannya jutaan. Berbeda dengan saluang yang hanya dihargai tujuh ratus ribu dari malam sampai pagi. Hasil itupun harus dibagi dengan tujuh orang teman abah. Situasi itulah yang membuat tawa dirumah ini sering terbenam. Hanya ada murung. Dingin dan sepi. Semua dibungkus perasaan temaram.
           
Aku duduk menjuntai dipinggir serambi. Terlihat rambut putih abah mengkilap tertimpa cahaya senja. Perlahan abah meniup saluang ditangannya. Irama-irama semesta mengalun. Suara yang keluar begitu menyedihkan. Menyayat. Tidak menyisakan ruang kegembiraan untuk selarik senyum yang kurindukan.
*
            ‘’Bah, anjing-anjing itu sepertinya sudah kenyang diberi makan. Sedangkan diri abah sendiri dari tadi sore belum makan’’,ucap amak getir. Dengan wajah sayu ia berdiri di depan pintu. Angin sepoi mengibas rambut amak yang mulai memutih satu persatu. Abah memalingkan muka.mengangkat dua mangkok kotor bekas makanan anjing.
‘’Sudahlah!tidak usah hiraukan abah. Kalian sajalah yang makan,abah sudah kenyang’’.
Matanya tengadah menatap langit. Mencari arti kegelapan.
‘’Tapi bah, dari tadi siang kan’’……
‘’Sudah, sudah… abah sudah kenyang. Kau jangan membantahku sum!’’
Garis kekesalan mulai tampak dari ucapan abah yang memotong kata-kata amak. Amak terdiam. Ia mengerti, kalau terus mengajak abah hanya sebuah kebodohan yang akan meledakkan meriam hitam dihati abah. Hati amak bergemuruh. Hujan dimatanya ingin segera turun, namun dibekamnya kuat-kuat. Amak kembali ke meja makan dengan tangis yang tertahan. Kami pun makan tanpa abah. Ada rasa iba menari-nari disetiap suapan nasi kemulutku.
*
            Lebih dari seminggu, semenjak usahanya gagal menawari mengisi saluang pada acara alek anak Haji Ramlan abah lebih banyak mengurung diri. Hilir mudik tak karuan. Kadang-kadang menyendiri diserambi. Pikirannya menerawang entah kemana. Kepuncak gunung Sago yang menjulang di udara,atau pada kemuning padi yang menunggu musim panen tiba. Abah tak pernah keluar rumah,kecuali ada teman yang mengajak pergi berburu. Begitulah, betapapun besar masalah yang dihadapi,ajakan berburu adalah angin segar yang kembali mengencangkan urat sarafnya. Kalau aku coba bertanya kenapa abah sangat suka berburu,jawabannya pendek saja,
‘’Kalau tidak berburu kedua anjing ini akan mati kelaparan.’’
Apalagi kadang diperburuan itu ada diadakan semacam taruhan.  Tentu bagi anjing mereka yang sanggup mematikan binatang buruan yang akan memenangkannya.
           
Seperti hari ini. Wak Ramlan mengajak abah berburu ke ‘’Bukit Rimbo Batu’’. Sebuah bukit yang di penuhi tumbuhan pinus besar-besar. Rumputnya mencapai lutut orang dewasa,yang menutupi jurang-jurang terjal disekelilingnya. Batu-batu besar dan terjal seringkali menjadi ranjau bagi orang-orang yang berjalan di dalamnya.  Wak Ramlan berani mengganjal tiga ratus ribu kalau anjing abah mampu melumpuhkan satu ekor babi. Sepulang dari rumah Wak Ramlan kemaren wajah abah tampak lebih bahagia. Sepanjang malam hanya berburu saja ceritanya. Aku dan amak hanya bisa mengurut dada.
*
‘’Woiii….Kandiak gadang lari ka rah rimbo!’’ seorang pemburu berteriak dengan lantangnya,sambil menunjuk ke jalanan kosong diantara rentetan pinus yang menjulang tinggi di udara.sontak anjing-anjing mereka dilepaskan. Dengan garang dan liarnya anjing-anjing itu berlari mengilas rerumputan dan ilalang. Dibelakang, para pemburu dengan ligatnya mengikuti anjing-anjing mereka. Sorak mereka membahana di udara.
Abah berlari dengan kencangnya. Nafasnya memburu. Tidak sabar melihat taring anjing-anjingnya menempel dikulit babi hutan yang kini sedang diburu. Ia kerahkan sisa tenaga. Keringat membasahi . melunturkan debu-debu kotor diwajahnya. Kaos tipis yang ia kenakan telah menempel dibadan akibat keringat yang melekat.

Tapi apa bisa dikata, kaki abah menabrak sebuah batu besar yang tak kasat mata,karena ditutupi oleh rerumputan hijau yang tinggi. Tak ayal,tubuh abah terpelanting tepat dibibir jurang yang tak terlihat oleh ilalang yang menutupi. Hanya teriakan abah yang terdengar oleh Wak Ramlan yang berada dua puluh meter dibelakang abah. Suasana di perburuan berubah mencekam. Keringat dingin mengalir deras,seirama degup jantung yang begitu kencang. Bulu roma ikut menegang. Beberapa orang mulai mencoba turun ke dalam jurang. Kondisi jurang yang dalam membuat orang-orang kesulitan. Ditambah lagi belukar yang merambahi sekeliling jurang.
Langit temaram. Berubah mendung. Kemudian berubah rintik-rintik air. Suara gemuruh dan halilintar berpadu loncatan alam. Semakin malam hujan turun semakin tidak karuan saja. Guruh tak henti berkelakar menggeluti kecemasan.
*
            Semburat sinar fajar menyibak kegelapan yang menyergap alam semalaman. Wajah Wak Ramlan yang bercerita semakin menegang. Amak bersandar lesu didekat dinding kayu. Dua tetes bening sudah acap kali ia tepis dengan kerudung putihnya. Akupun hanya mampu membisu sambil memeluk kedua lutut. Mengatur nafas yang tidak lagi stabil.
Tak lama, seorang pria kurus berlari dengan tubuh kotor. Ia berdiri didepan pintu. Ia bungkukkan tubuh sambil memegangi kedua lututnya. Ia mengatakan bahwa jasad abah tidak ditemukan tepat dimana ia jatuh. Kemungkinan terbesar yang terjadi, tubuh abah telah diterkam binatang buas,dan diseret entah kemana. Suasana dingin itu berubah erangan panjang dari amak. Begitu menyayat.
Amak pingsan selama dua hari. Namun satu hal yang tidak bisa kulupakan, kejadian itu tepat disa’at usiaku menginjak 17 tahun. Sebuah kado terburuk yang mengajarkanku arti perih sebuah kehilangan.
Satu bulan, jasad abah belum jua ditemukan. Entah diamana keberadaannya. Tersangkut disebuah cabang pohon,atau jatuh kedalam sungai dan hanyut entah kemana. Atau memang telah dimangsa hewan buas dan dibawa kesarangnya. Apakah abah masih hidup dan kini sedang barada disuatu tempat. Allahu’alam. Tapi yang jelas aku telah rela menerimanya. Meski sesekali masih kudengar dipenghujung akhir malam isak tangis amak, yang menyajakkan bait-bait kehilangan setiap aku tidur dipangkuannya.

Coba baca nak,coba baca
Berita ayahmu yang jatuh dari ketinggian-
Disebuah akhir malam
Tutup telingamu, dikalau
Dentuman keras itu membuat nafasmu sesak
Dan darahmu deras menggelegak
Agar malam ini,anakku
Amak melihatmu telentang tanpa nyanyian abah
Dan tanpa decitan periuk
Pertanda nasimu masak diperapian

Lalu kami akan sama-sama menangis dalam kesunyian. Kini saluang bambu itu merenung sendiri kehilangan majikannya. Mulai melapuk dimakan cuaca.

*
            Masih terdiam. Kupandangi tumpukan-tumpukan kertas berdebu di atas sebuah meja kayu. Entah apa penyebabnya berdebu. Debu-debu dari jalanankah? Atau akibat telah lama tersentuh waktu.
Debu kusapu dengan tangan. Disetiap lembar terdapat coretan-coretan yang sudah tampak kusam. Sesekali kuberdiri kearah jendela kayu. Menembus pandang pada kabut yang menyekap penglihatan. Menatap serambi yang bisu,kedinginan ditempatnya.
 Mualai kubaca kertas itu lembar demi lembar, berteman lilin yang menyadap kegelapan. Air mataku meleleh  disebuah kertas yang sudah hamper sobek. Kubaca lagi tulisan itu dalam-dalam.
‘’Jadilah lilin-lilin itu,anakku ! yang tidak pernah habis sebesar apapun api membakarmu. Jangan kau menjadi kertas ! meskipun kecil api yang membakar, kau akan tetap sirna sebagai abu’’.
Sekarang aku benar-benar mengerti apa yang akan terjadi ketika kertas dan lilin itu menyatu. Sebelum kenangan itu benar-benar kubakar menjadi masa lalu.

Selesai

-Cerpen ini dilengkapi dengan puisi ‘’REPORTASE SEBUAH AKHIR MALAM’’,Karya Firman Nofeki (pengarang)

PUISI FIRMAN NOFEKI DALAM ANTOLOGI NASIONAL '' EPITAF ARAU '' : KADO UNTUK KOTA PADANG TERCINTA



Judul Buku : Epitaf Arau
Kategori : Buku Puisi
Penerbit : Senikata
Tahun Terbit : April, 2012
Tebal : 300halaman
ISBN : 978-602-9968-5-1

   Membaca puisi pilihan yang ada ada dalam buku ini seperti kita membaca sejarah dan keindahan Kota Padang yang terkenal dengan budaya dan sastranya. Kita akan dibawa oleh keindahan metafor yang tersebar dalam 150 puisi yang tergabung dalam buku ini. Para penyair seolah hendak menceritakan dan mengungkapkan kebanggaan juga keluh kesahnya tentang Padang secara kritis melalui keindahan puisi.

   Buku kumpulan puisi setebal 300 halaman dengan cover yang teduh menggambarkan suatu dermaga yang dihiasi langit biru cerah menandakan bahwa Padang menjadi salah satu kota menawarkan keindahan, maka tak heran banyak wisatawan domenstik atau pun wisatawan asing berlomba-lomba berkunjung kesana. Kesan yang sama juga bisa dirasakan oleh para penyair nusantara yang tergabung dalam buku ini, mereka mencoba merekam jejak sejarah,budaya dan keunikan lainnya. Cerita Malin Kundang, Siti Nurbaya adalah contoh nyata cerita yang melegenda sehingga banyak penyair yang ingin mencetaknya dalam sebuah sajak yang penuh keindahan. Sejarah kota tua, keindahan pariwisata atau bahkan wisata kuliner bisa dijadikan imanjinasi yang apik dalam penggambaran puisi-puisi yang manis.

   Seperti puisi Firman Nofeki, penyair  yang puisinya termuat dalam antologi  Epitaf Arau berikut ini :
DESAU NYIUR PELABUHAN MUARA

dari pelabuhan muara sampai batang arau
arakan tualangku merapati nostalgia

kunamai rindu purnama dalam gelora siti nurbaya
membesat lambai nyiur, kemudian kucintai bibir angin
mengecupi tali pusar maringgih penuh nafsu
sembunyi dibalik bayang-bayang mitos tujuh anak bajang
berlari dibuai sayup rampai muara

disulut kenangan, rasa rindu jumpalitan
dituding riak panas ruas jalan, menyebrangi hilir gunung
kelelawar mendengus sepanjang perairan
mengalirkan aroma candu nasi kapau
dari rongga nyiur sampai batang arau
makin kupunguti resonasi untung tubuhku

langit memerah, awan-awan menyuguhkan panorama pelabuhan muara
pada semilir batang arau, tempo dulu di minangkabau
desau nyiur meniup payudara-payudara lumbung
melata ditangan belanda, membakar sendi hidup
dioperasi sepanjang pelabuhan hingga ruas jalan
gajah maharam digiling dalam frustasi

meledakkan purnama direntang punggung adat
melibas naga senja dilekung cakrawala
menyeruak dentuman mesiu tahun baru
meratapi petitih syara' yang dirumpangkan
bugil petasan sampai bola mata api
meledak di hulu kaki siti nurbaya

dari pelabuhan muara sampai batang arau
teluk bayur dijejali puntung kemarau
mereguk tangis ombak pantai air manis
membiru dirupa batu malin kundang
dekami sujud seujud roh miskin
purnama menyapu tatanan alis wanita tua
membasuh sumpah serapah beraroma garam lelautan
angin semilir menyapa gladak sampan buana
topan bersiul, merundung tidur kata-kata

nyiur melambai hingga batas parak lengang
lobang batas muara menyelami ekor ganggang caroline
mengartupkan imaji sebatang pohon bakau
kuseduh sepanjang mesiu perjalanan
ah, aku lupa menuruni lubuk minturun

pasir putih pantai jambak akhiri letupan kelam aroma sya'ban
dari keheningan hingga keramaian
mengakhiri panorama pelbuhan muara sehiliran batang arau
tempo dulu diminangkabau

payakumbuh, 03-09-2011

LAGU AIR MATA

         : sehari mengunjungi batu malin kundang

aku layaknya batu
mengulur kedurhakaan pada kalam
waktu ini tobatku
merentang sumpah ibu didada bisu

aku layaknya air mata
sepanjang sujud raga, seteguk belasungkawa
mengalir tangis sepanjang pantai air manis

payakumbuh, 04-09-2001

Sabtu, 16 Agustus 2014

SECEPAT PERJALANAN HUJAN KE BUMI, BEGITU RINDU DAN BAYANGMU BERKEJARAN DI KEBUN HATI ^_^

* rindu adalah mahkota kebesaran yg kukenakan, berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.
padamu, apa yg kusebut sebagai cinta tak lebih tegar dari setetes embun yg berhastrat meretaki bebatuan, tak lebih khusyuk dari do'a-do'a yg kuisyaratkan dalam munajat-munajat hening pengharapan
jika jarak adalah sungai, kamu adalah hulu, kekasih,
tempat do'a-do'a yg kuhanyutkan kehilangan hilir.
kamu adalah harapan, yang memaksa untuk terus ku ulur, bahkan lebih abadi dari keabadian (firman nofeki)


*jika yg engkau miliki adalah cinta mati, maka hatiku adalah makam yg tepat untuk mengbadikan jasadnya (firman nofeki)

* aku masih terus mengingatmu, dan membiarkan kenangan itu lesap menguap kedalam lapisan hari-hari.
agar disetiap pagi, kenangan tentangmu kembali mengembun difikiranku. meluruhkan semua rasa itu, utuh
dan putih (firman nofeki)















FIRMAN NOFEKI

16-08-2014

Jumat, 15 Agustus 2014

KITA SATU DAN SELAMANYA

; (teruntuk kita, sahabat, yang terus berjalan diatas urat nadi harapan
   semerah darah, tekad melarutkan segala rintangan
   mencari muara cita-cita di jantung masa depan)


pada malam, kau sabda bagi sunyi
tawamu manterai kerinduan yang kerap menghisap sepi di sudut kamar
sahabat
pejamkan matamu sejenak
ingin kudendangkan nyanyian ksanah suci di tabir telingamu
penghibur lara kesunyian jiwa

mungkin hanya sebait lagu cinta ini, sahabat
tak cukup tanganku merengkuh cakrawala
mengambil sesobek matahari
menempelnya di lepuh jiwa
namun tetes hujan yang acap turun dari langit mata
telah mengapung menjadi lautan warna
tempat kita merakit cerita, menjadi seikat pelangi di langit jiwa

dengarkan petikan birama gitar tuaku
nyanyian ksanah suci mengalun wirama-wirama sendu
ukhwah dan cinta
luka dan asa
pertarungan nasib serta peristiwa-peristiwa indah
kita ikat dalam irama dan nada

maka tabuhlah gendang-gendang waktu
iringi permainan melodiku
biarkan hari-hari itu menarikan tarian kebahagiaan
berdansa diatas pentas harapan

lewat sepenggal instrumental cinta ini, sahabat
kita beri nada pada kata rindu yang lama sunyi
dengan lagu kita damaikan jarak yang menyisihi pertemuan
kita punguti keping-keping cerita yang membekas di ingatan
mengikatnya dalam satu nyanyian ksanah suci ukhwah

sahabat
seperti lirik dan nada
kita satu dalam lagu
seperti darah dan urat
kita satu dan selamanya









FIRMAN NOFEKI

15-08-2014







i'am still alone always alone

i'am still alone, always alone. punish me with a lonely world.

dunia menghukumku dalam kesepian tanpa kearifan rasa cinta. dunia memenjarakan sunyi dalam diri. mengiring hati serupa tahanan ke tiang gantungan waktu, tanpa pembelaan. *
persetan dengan keramaian manusia. mereka lalu lalang diatas sayatan-sayatan hati yang sekarat, tergolek lemah tak berdaya.  mereka berlayar diatas lautan darahnya, kemudian bertolak arah memutar sauhnya kembali. membiarkannya mati sendiri diatas pelabuhan sepi.*
andai ada tangga bumi ini, sungguh ingin kudaki, mencari halaman Arasy-Mu Rabbi.*
sebesar zarah pun tak ingin kumiliki dunia ini. hanya lautan hastrat untuk menyelam di samudera Dzat-Mu. di halaman kasih-Mu lah pohon cinta itu mengakar dan tumbuh ,berbuah abadi.*
jika memang langit ini bertepi, ingin kuberdiri diantara sisinya.  melompat jauh dari semesta bumi. biar rasa sendiri dan sepi ini mati terbunuh , diatas pangkuan kasih dan cinta-Mu Rabbi.





FIRMAN NOFEKI

15-08-2014

Kamis, 14 Agustus 2014

PUISI-PUISI FIRMAN NOFEKI DI HARIAN SINGGALANG 2 DESEMBER 2012

TAFSIR LANGIT

''kejar, mengejar rahmat-Mu
debar, berdebar jantungku''

kemana dosa hendak mengaung
kegunung jiwa yang berlahar
mengepungi jilatan renyah tuhan
kepunggung ayat yang kurapal

kejar, mengejar rahmat-Mu
debar, berdebar jantungku

dimana asal,
kecipak hujan yang bertarik dari awan
keriak rindu  tak berhulu
kengarai iga, atau legam kautsar-Mu
wahai tuhan

diantara patahan matahari
kutanggkap malam yang tenggelam
pepohonan tidur sepanjang sunyi
menepi dilekukan-lekukan puisi
ai, segala pedih yang rinai
tak lekang, kau tangguk air mata yang tak diri

seperti malam yang berangkat dari bianglala
seperti hujan yang kasar menyirami dirus cahaya

aku juntai permai tubuh-Mu
dijepit tafsir langit
menggapai lengan mata air yang lalai
semakin

kejar,mengejar rahmat-Mu
debar,berdebar jantungku


KEMBALI SUNYI
aku bayangkan diriku
hijrah sampai retakan jantungmu
dengan sayap-sayap
kucari jalan keluar
mencari matahari kedasar cuaca


bukan apapun
tapi siapapun
seperti kalammu yang selalu
dipajang dikaki berhala
bukan apapun
tapi siapapun
mulai tenggelam menuju sabda
lalu aku bayangkan diriku
sebatas iman yang kembali sunyi


kutanggalkan ruh sujudku disini
bersama sepasang mata yang bara
ada telaga, rebah menunggu senja
diatap bianglala
merta kembali sunyiku
kurekat dibalik ilhammu
yang nyata

BIRAMA SUBUH

Kudengar bisik-Mu dingin
mungkin angin dan hujan menyala
melepas penutup badan
aku mulai telanjang
dalam butiran angan

aku berlari
mewakili suara panggilan syahadah
lalu berlinang dimta-Mu

ku dengar birama subuh
agung dalam ceruk tasbih rindu
siapa yang sujud
aku ataukah kau
menyemai tahajud
melipat batin
serta laju darah yang mengalir

di puncak subuh
riwayatku patah tumbuh
menggelegar, suara batin terkapar
dada dan air mata
adalah aku yang terbaca
dari rahimm-Mu
hingga alam mengirimku
pada narasi bisu

RENGKAHAN SEPATU II

                                 ada suara tanah
                                 rengkah di bangkai sepatu
                                ada suara cacing bertingkah
                                dibalik bangkai ibu

jauh di mata rantau
kubayangi diri
menyentuh waktu
meroboh gundukan perut ibu :

(perempuan yang bicara pada langkah
mengisahkan juni menghapus karangan wajah)

bulan sedang jatuh
menandai jejak
diri menyajak arus
bulan terlempar jauh
tidur di kota ini
menidur pelukan ibu
di tambat-di tumbuhkan
sunyi pemakaman

langit tumbuh
menjelma air
rengkah tanah
bangkai sepatu
berubah gundukan

sungguh, sekali ini aku ingin
menancap hati pada nisan
dan tubuh mu

160612


Rabu, 13 Agustus 2014

REPORTASE SEBUAH AKHIR MALAM

REPORTASE SEBUAH AKHIR MALAM

coba lihat Nak, coba lihat
karung beras yang menganga di sudut lumbung
dan periuk kita menggelegak menanak remah-remah harapan
akan kau dengar anakku
deraman-deraman nakal disisi lambungmu

coba baca
berita anak-anak kampung
terjerat awan-awan gelap semesta ibu kota
dengar, jeritan lapar bayi-bayi dalam gendongan ibu mereka
melebihi wirama-wirama sendu
akan kau rasakan air mata yang mereka tanak
sehabis dibombardir mobil aparat

coba kau lihat Nak
bara kehilangan api
cerobong kehilangan asap
buntil-buntil melapuk dimakan cuaca
cukuplah anak ku, keringat putihmu yang kau rasai
dan dingin jemariku menyentuhmu hingga esok pagi

coba baca
berita ayah mu yang jatuh dari ketinggian
disebuah akhir malam
tutup telingamu, jikalau dentuman keras itu membuat nafasmu sesak
dan darahmu deras menggelegak
agar malam ini anakku
ibu melihatmu telentang tanpa nyanyian ayah
dan decitan periuk
pertanda nasimu masak diatas perapian

Firman Nofeki, Payakumbuh 250114

Senin, 11 Agustus 2014

Quotes about love

* percayalah dik, Allah akan mempersatukan hati dua insan yg mencintai dalam diam dan kesabaran diatas bahtera syurgawi 
                       (firman nofeki)


* aku akan menunggumu, seumpama hujan yg menunggu jatuh diatas tanah-tanah kering.
aku akan menunggumu, seumpama embun menunggu jatuh diatas rindu dedaunan.
aku akan menunggumu, seumpama dermaga menunggu kapal datang melabuhkan perjalanan.
menunggumu, hingga batas waktu yg tak mampu dibayangkan matahari untuk bertemu sang rembulan.(firman nofeki)


* Tuhan, 
Jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu .
Jika kelak hati ini berlabuh, jangan biarkan ia tenggelam, biarkan ia berlayar diatas lautan Shirat-Mu.
agar kelak bertemu labuhan rindu dan cinta-Mu ; sebuah ujung singgah yg damai.
Demi kesucian Dzat-Mu, tiada tertahan rinduku pada-Mu,
dan padanya.(firman nofeki)

* jika aku tak lagi ada, kekasih
maka tenangkanlah isak hujan yang menangisi kepergianku
biar tak terbentang sebuah lautan diatas tanah pusara
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
perahu umur yang berlayar jauh
pun telah tertambat jangkar maut sa'at menepi
di satu hari (firman nofeki)

* dalam do'a pagiku, kaulah detak yg bersitahan terhadap zikir yg tiada putus2nya.
Yg setia menasbihkan rahasia2 hati kedalam syahadat cinta 



*Rindu adalah selapis insaf yang tumbuh dalam lukaku
dan cinta adalah jernih insani dalam telaga sepi sukmaku







FIRMAN NOFEKI 

11-08-2014

Quotes about love

* seperti hujan ,katamu, rindu adalah gerimis yang melebat tiba-tiba. 
mengalirkan kamu kedalam anganku. selalu dan tiba-tiba

* sumur yang bening tidak akan mencari timba. begitupun hati yang bersih hanya menanti Sang Penimba cinta mengisi cawan-cawan hatinya dengan kesucian. sama-sama larut dalam kemurnian cinta ilahi, bertelaga syurgawi

* aku g' pernah tau engkau jodohku atau bukan. yg kutahu engkaulah yg selalu kuperjuangkan

*cuma Allah jawaban terbaik yg saat ini aku miliki. Dialah alasan kenapa aku kembali !!!

* syukuri sekecil apapun karuniaNYA ! sebab walaupun sedikit belum tentu org lain punya

FIRMAN NOFEKI 

10-08-2014

Selasa, 08 Juli 2014

LAGU

SATU HARI UNTUK DIRIKU

D EM

Jika semua ini tlah berubah

A

tak kan ada cerita

D

antara kita

D EM

meski enggan dan bimbang

EM

jiwaku

A

melihat kau berlalu

D

melepasmu



chorus:

(*)

G A

Terakhir kali

D BM

kutatap matamu

EM A

agar perih ini tak kurasakan lagi



(**)

D EM

satu hari untuk diriku

A D

biarkan ku lelap disampingmu

D EM

satu hari untuk dunia ku

A D

mengenang kembali kisah kita



back to ( *),( **)

G A

perpisahan ini

D BM

menyisakan perih

EM A

di dalam jiwaku dan hidupku





intro: D EM A 








FIRMAN NOFEKI
01-01-2012

Selasa, 03 Juni 2014

KUTUKAN SABDA


;kullunafsinzaaikatulmaut

ini sajak tentang sisa, kumbara
sisa-sisa usia dari seribu mimpi yang dulu kita rencana
disebuah tanah gersang bernama jiwa
matahari dan rembulan terbit sekali saja
angin bertiup satu arah  membawa kabar rahasia-rahasia syurga
ribuan gagak-gagak hitam berterbangan dari goa-goa maut
kepakannya menebas cahaya langit
lengking pekikannya mengarak kegelapan ke dalam langit-langit kamar
kemudian izrail menghujankan bencana
pada sekujur badan jiwa

ini sajak tentang sisa, kumbara
segala rasa
segala makna
segala kata
segala cinta
tertawan di tangan malaikat pelumat segala

lalu engkau terbawa arus ke batas akhir
dimana hari dan waktu tiada memiliki angka
jiwa-jiwa berdiri tanpa raga
alam terbentang tanpa warna
manusia bercengkrama dalam satu suara
bagaimana akhir kesudahannya?

sekali lagi, ini sajak tentang sisa, kumbara
sisa-sisa nafas riwayat dijamahi sengketa
segala nafsu menghamba di kaki maut
tangannya menelusupi dada
menghabisi segenap rasa yang kau punya
memutus ikatan pertalian roh dengan raga
diselingi rintihan-rintihan prahara
adakah kuasa menolak kutukan sabda?
sa'at teriakan sakratul menghantam halaman arasyNYA
selembar daun usia gugur
mengukur jatuh diatas tanah pusara

Padang, 19 mei 2012

SAJAK PENUTUP

jemput aku dipenghujung subuh
agar malam nanti dapat kurapikan sisa-sisa munajatku
dan kulipat kisah-kisahku
dalam sajak-sajak penutup

jemput aku dipenghujung subuh
aku masih ingin menjadi bayang-bayang
dalam keremangan malam kota ini
atau setidaknya, berilah aku kekuatan
untuk kabur dari rongga jasad yang lemah ini

jemput aku dipenghujung subuh, Tuhan
aku tidak ingin berangkat
dalam kebisingan


16-03-14

FIRMAN NOFEKI 

Minggu, 01 Juni 2014

CERPEN FIRMAN NOFEKI DI KORAN HALUAN 24 MARET

TANAH MAKAM


Telah memasuki hari kedua tersiar kabar kematian anak­nya di kota. Namun Wan Pito masih sempat melakukan aktifitasnya seperti biasa. Setelah selesai menyabitkan rumput  untuk kerbau-kerbau nya, ia masih sempat turun kesawah siang ini. Memanen padi juragan Tohang yang dititipkan tempo hari. Begitu pula dengan istrinya, Sulastri. Semenjak ayam berkokok tadi pagi, ia telah sibuk meneteng sayuran kepasar. Bukan kare­na kedua orang tua itu tidak punya uang untuk berangkat ke kota, sekedar melayat dan mengurus jenazah anak laki-laki semata wayangnya itu. Apalagi untuk membawa jenazahnya pulang untuk dimakamkan di tanah dimana ia dulu dilahirkan, seperti yang diminta Salsabila, me­nan­tunya, yang tiada lain istri dari anak laki-lakinya yang sekarang telah meninggalkan dunia. Sungguh tidak mung­kin. Ada semacam peristiwa kelam masa lalu yang mene­lan bulat-bulat hati kedua orang tua itu untuk membawa jenazah anak laki-laki nya itu pulang kekampung halaman.*

Angin berdesau lembut petang itu. Satu persatu para pelayat telah meninggalkan rumah Salsabila. perlahan, suara mulut yang berdecak membicarakan jenazah sua­minya tidak lagi terdengar, seiring dengan melenyapnya suara langkah-langkah kaki di halaman. Namun pro dan kontra atas jenazah Samiri, suaminya, masih meletup-letup seperti hendak meledak saja. Tidak sedikit yang meng­gulirkan komentar-komentar miring.


“Kasihan ya Samiri. Hidup sudah di uji, matipun di uji juga”
“la, itu teh wajar atuh, nikah saja tidak direstui orang tua, masuk kenegeri orang tidak mematuhi peruman adat pula. Itu sudah hukuman dari roh leluhur karena ia masuk kekampung ini tidak melakukan pemurnian darah terlebih dahulu”
Pemurnian darah yang mereka maksud adalah seo­rang laki-laki baru bisa dika­takan bebas dari tuntutan peruman adat jika ia telah melakukan ikatan darah dengan gadis dikampung tersebut, alias ia harus meni­kah dengan kadis dikampung itu, kampung Rejo. Kalau tidak, maka ketika ia telah meninggal dunia maka jena­zahnya harus kembali dipu­langkan ketanah asalnya. Tapi bagaimana mungkin ia sebagai gadis minang, yang telah mati-matian memper­tahankan cinta mereka sam­pai harus terusir dari kampung halaman begitu saja mere­lakan suaminya bermadu dihadapannya.
Namun, ingin rasanaya Salsabila menyumpal mulut orang-orang yang berkomentar miring seperti itu. Kalau saja ia tidak ingat sedang berada dihadapan peti jenazah sua­mi­nya, mungkin jari-jari tangannya telah beralih men­cakar muka orang-orang terse­but. Tapi tentu ia masih orang yang punya rasa malu dan harga diri. Tidak ingin ia merendahkan dirinya dihada­pan jenazah suaminya, sekali­pun ia telah tiada.
Diantara yang lain, ada juga yang menyuguhkan ko­men­tar positif dan ikut mem­berikan solusi jalan keluar.
“Sabar ya Bil ! ini teh ujian dari gusti Allah. Nanti kami akan coba membantu berunding dengan tetua adat agar suamimu bisa diizinkan dimakamkan dikampung kita ini”.
Salsabila hanya tersenyum tipis. Sekalipun ia juga ber­harap demikian, namun disisi lain hati terdalamnya ia mengeluh,’’itu tak akan mung­kin terjadi.

Ada juga yang mengu­sulkan jenazah suaminya dikubur dipemakaman umum saja. Tapi ia sadar biaya membeli sepetak tanah ma­kam dipemakaman umum bisa mencapai puluhan juta. Tentu ia tidak mempunyai uang untuk itu. Apalagi yang letaknya jauh kepusat kota, tentu membutuhkan proses yang rumit dan panjang.*
Sekarang jenazah ditengah rumah itu benar-benar telah kehilangan pelayatnya. Cuma air mata Salsabila dan suara bacaan Yasinnya yang setia melayat. Dibelakang, ada Poniem, teman baiknya yang setia membantu menyiapkan segala sesuatu keperluannya. Poniem yang awalnya bukan siapa-siapa telah dianggap malaikat oleh Salsabila. Ia dan suaminya semula tidak punya tempat tingal dikota, lewat Poniem lah rumah petak kecil yang semula ruko ini dikontrakkan untuk mere­ka.
“Sudah kau coba hubungi lagi keluarga di kampung bil?”
Poniem yang sedari tadi dibelakang tiba-tiba saja sudah berada disamping Salsabila.
“sudah kak”.
“lalu apa tanggapan mere­ka?”
Usai poniem bertanya demikian ada yang berubah dengan reaksi Salsabila. Cuma gelengan pelan yang ia berikan sebagai jawaban. Poniem yang sangat mengerti dengan maksud gelengan itu tidak berani lagi melanjutkan pertanyaan. Sunyi yang sedari tadi pias berganti sedu sedan. Salsabila merunduk. Kedua tangan ia tangkupkan kewa­jah. Seolah ia tidak lagi punya muka untuk dihadapkan kepada jasad suaminya.
“aku tahu, hukum adat terkadang memang kejam, Bil”. Bahkan mampu bertahta diatas hukum agama. Berdo’­alah ! semoga tetua adat dan orang-orang kampung ini dibu­kakan hati mereka”, ujar Poniem sambil terus setia tangannya mengelus punggung sahabatnya itu.
Namun kesedihan yang sa’at ini ia alami telah mem­basahi puncak kesabarannya. Tak ia pedu­likan lagi keadaan yang sekarang memukulnya. Tak ia hiraukan jenazah Samir yang terbujur kaku dihada­pannya “ini salahku, kak ! kalau saja dulu aku tak memaksanya untuk menga­winiku, kalau saja dulu aku tak memenuhi keinginan untuk kawin lari bersamanya, tentu akan banyak tanah makam yang setia menjadi tempat peristirahatan tera­khirnya”. Seluruh kalimat yang terlontar berpadu sedu sedan dan air mata. Ditepis­kannya pelukan poniem dari bahunya, dan berlari ke ka­mar.
Poniem yang tidak me­nyang­ka akan begitu reaksi Salsabila berusaha mengi­kutinya. Suara pintu yang dibanting memotong langkah­nya, ia hanya berdiri di depan pintu kamar yang sudah dikunci dari dalam.

“Bil, bukan air mata dan sesal yang diharapkan sua­mimu, namun kesabaran dan ketegaran hatimu yang ia butuhkan”. Poniem mencoba menasehati. Namun sia-sia. Salsabila telah membawa rasa sesal dan kesedihan itu kembali kemasa lalunya.*
Tepat 10 tahun silam, bibit-bibit cinta itu telah menemukan ladang nya, dan bersemi. Namun bagi masya­rakat kampung, terutama ayah salsabila sebagai peng­hulu adat, cinta mereka ada­lah musibah.
“bagaimana ini bisa terja­di ? adat diletakkan sebagai hukum utama. Tetua adat selalu menggunakan hukum adat  untuk menghantam warga pelarian seperti dirinya. Diminang ataupun disini sama saja. Adat digunakan sebagai pelarian dari hukum syari’at.”, ujarnya dalam hati.
Masih kental di iingatan Salsabila bagaimana ayahnya yang seorang pemimpin adat bercekok lidah dengan kelu­arga Samiri sebab keinginan mereka untuk menikah. Terus terang ayahnya yang seorang pemim­pin adat begitu menen­tang, dan mencap pernikahan mereka akan menjadi kutukan bagi generasi berikutnya. Kecuali kalau Samiri mampu menyem­blih seekor kerbau putih, yang darahnya dianggap sebagai pemurni hukum dan penebus kutukan bagi ketu­runan.  Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang perkawinan sesuku adalah hal yang sangat dilarang di mi­nang­kabau.
Dikampungnya ada sebuah cerita yang sangat popular. Cerita tentang sumiran dan saritem yang berani menikah sesuku. Sehingga setiap kali Saritem melahirkan anaknya selalu tewas menggenaskan . kata orang tua tua dimangsa Situah, harimau jadi-jadian yang amat popular di Minang­kabau.
Namun angin-angin cinta yang berhembus mesra dari sepasang hati dua sejoli itu sudah tidak dapat ditepiskan kedatangannya. Angin itu jualah yang bisa menggu­gurkan titah adat diladang cinta mereka. Dan angin itu jua yang telah melemparkan dua sejoli itu ke kampung Rejo ini. Sebuah kampung dipedalaman pulau jawa yang begitu tinggi menjunjung nilai-nilai estetika klasik titah nenek moyang yang masqul dihukum-hukum adat.

Salsabila mau tidak mau harus melepaskan keanggo­taannya sebagai putri tunggal Datuk Bandaro Basa. Kepu­tusannya untuk kawin lari dengan Samiri telah menyi­sakan dendam tersendiri dihati abahnya terhadap keluarga Samiri. Dendam pemimpin adat adalah den­dam turunan. Ia memakai tangan adat untuk melam­piaskannya kepada keluarga Samiri yang telah membawa kabur putri tunggalnya. Den­dam untuk tidak menerima kehadiran Samiri kembali di kampung ini. Sampai ia telah mati sekalipun.*
Ternyata perundingan dengan Empu Kromo hanya menghasilkan keputusan, bahwa jenazah suaminya itu harus segera dibawa pulang ke kampung halaman. Ia memberikan waktu tenggang satu hari lagi untuk prosesi. Salsabila sudah memohon agar titah adat dapat dipu­tihkan sehingga jenazah su­aminya dikubur dikampung Rejo ini saja. Namun Empu Kromo tidak menyahut.
“Saya tidak bisa seenaknya merubah aturan yang sudah berlaku. Ini sudah peruman adat. Salah suamimu sendiri kenapa dulu tidak mematuhi aturan adat kampung ini.” Ujar Empu Kromo dengan nada bicara yang menun­jukkan ketidak senangan dengan Salsabila.
Perkataan Empu Kromo itu seperti hendak menyun­tikkan amarah dilubuk hati­nya. Bagaimana mungkin dulu ia mengizinkan suami yang begitu dicintainya meni­kah lagi dengan perempuan kampung ini hanya untuk sebuah alasan yang ia anggap begitu tidak penting. Hanya untuk sebuah ritual pemur­nian hukum adat.
Salsabila merasa percuma berunding dengan orang seper­ti Empu Kromo. Seharusnya sebagai tetua adat tidak menjadi matoritas yang me­ne­kan kelompok minoritas seperti dirinya.*
Dan Ini tepat hari ke tiga kematian samiri. Pertanyaan risih tentang kapan jena­zahnya akan dikuburkan terus berdecakan dari mulut-mulut warga. Pertanyaan yang me­nambah lilitan-lilitan masalah difikirannya. Sebagai warga pelarian, Salsabila berfikiran adatlah yang selama ini men­jadi pemusnah tatanan sosial kehidupan. Bagaimana mung­kin seseorang yang tidak lagi bernyawa terus diikat raganya dengan hukum-hu­kum terse­but. Sanksi yang telah mem­perlakukan suami­nya secara hina. Sanksi yang seharusnya tidak lagi pantas ditegakkan pada jasad yang tidak lagi terikat dengan kehidupan dunia.
Diluar, rinai menghan­tarkan suasana makin cepat jadi gelap. Salsabila hanya terdiam, tak kuasa lagi menja­wab suara-suara putus asa dari hatinya. Kepalanya mulai terasa berdenyut. Ia beristighfar dalam hati. Rasa sedih dan dendam menelan bulat-bulat hatinya. Tanpa sadar tangannya telah meme­luk peti mati dihadapannya. Dalam peti itu sesosok tubuh kaku sedang menunggu nasib. Menatap rohnya yang terka­tung-katung dipintu langit. Dari tempat itu ia tentu maih bisa mendengar tangin penye­salan Salsabila.

“kasihan dirimu bang, kalau saja waktu serupa dalam dongeng-dongeng yang dibacakan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum tidur, tentu aku akan meminta untuk kembali kemasa se­belum kau menikahiku.

Akan kupersiapkan terlebih dahulu sepetak tanah makam untuk­mu, untukku dan anak-anak kita”.*
Malam itu. Purnama me­nang­kap langkah seorang wanita yang berjalan mengen­dap menelusuri pekarangan masjid Babussalam. Kerudung putihnya menari diterpa angin. Cahaya purnama membingkai hitam bayang-bayang tubuh­nya. sekilas orang-orang akan berfikiran kalau seseorang yang berjalan tengah malam kearah masjid adalah mereka yang hendak melaksanakan Qiyamullail. Namun tidak sedikitpun terlihat pertanda bahwa perempuan itu hendak memasuki masjid. Ia memutar langkah ke arah belakang masjid. Menelusuri rumput-rumput liar yang menjulang hingga mata kaki. Langkahnya berhenti diatas sebidang kecil tanah kosong. Pandangan matanya tertuju pada cangkul dan sebuah bungkusan besar yang dari awal sudah berada disana. Dari penutup bung­kusan itu menjulur sebuah benda. Tangan manusia.*
Keesokan paginya warga desa Rejo digegerkan dengan peristiwa yang mereka anggap paling keji sepanjang manusia menghuni desa mereka. Dari ba’da subuh warga terus berdatangan memenuhi area masjid yang sudah diberi jalur kuning oleh polisi. Berawal dari laporan seorang jama’ah kepada Engku Kromo, berke­naan dengan bau busuk yang bersumber dari pekarangan dibelakang masjid. Seperti bau bangkai. Bangkai manusia, ujarnya.
Pekarangan kosong dibe­lakang masjid itu telah beru­bah sebuah gundukan. Bebe­rapa batang kamboja ditan­capkan disana. Tampaknya belum terlalu lama ditanam. Daun-daunnya pun tanpak layu dan berguguran ditanah.
Beberapa orang polisi mulai menggali. Diduga dari gundukan tanah itulah bau busuk dan menyengat itu berasal. Belum terlalu dalam menggali mata cangkul meraka menyentuh sebuah benda yang dibungkus rapat. Setalah diangkat bau busuk itu makin menyengat. Perlahan pengikat bungkusan itu dibuka. Terde­ngarlah suara mulut berdeca­kan menyebut nama Salsa­bila.
Empu Kromo terlihat begi­tu marah dan mengutuk. Ia memerintahkan kepada polisi untuk menangkap wanita yang telah menebarkan bau busuk sekaligus kutukan bagi desa mereka. (***)

FIRMAN NOFEKI ,
HALUAN, 24 MARET 2013