Minggu, 17 Agustus 2014

MATA AIR AIR MATA

sebuah cerpen Firman Nofeki teruntuk Negeri Sejuta Mujahid : Palestina



MATA AIR    AIR MATA 

                Aku air mata. Setiap kali bani Adam nuzul dari sulbinya, Tuhan menyadukku untuk diberi tahta diatas cawan-cawan hati manusia. Disanalah aku berbaur dengan segala penghuni abstrak lain yang tak terlihat. Kesenangan hidup, luka atas nasib buruk, dan penderitaan yang kejam yang memiliki tahta mereka sendiri-sendiri di kota asing ini. Kota yang pernah purba oleh kesendirian, dan terbakar oleh amarah yang membara.
Aku tak pernah menyangka ada sebuah kota yang hancur seperti ini. Akibat dilanda kebakaran dan bencanakah? Atau ini sebuah kota yang pernah ada ratusan abad yang lalu, dan Ia membawaku mengunjunginya kembali. Tuhan bilang aku memiliki seorang teman disini. Tapi siapa dan dimana ia? Andai Ia tahu, yang ingin aku lakukan adalah segera keluar dari kota ini. Dan kuceritakan pada temanku itu, prihal waktu yang pernah membakar sendiri dikotaku.
Entah sudah berapa lama aku sampai ditempat ini. Tiba-tiba aku merasa tengah berdiri dibibir jurang yang curam. Dan bila sepatah saja terlintas, sa’at itu pula tubuhku meluncur dalam dekapan sang bayu. Menimpal batu-batu runcing, tersungkur dihamparan pasir-pasir.
*

Tel  aviv, 16 maret 

Raungan rem yang diinjak kuat membuat kepala lelaki yang masih tertidur itu tertubruk kekursi depan. Truk berhenti disamping Hadanah. Didepannya menjulang gedung berlantai tiga. Berdiri sebuah plang yang bertuliskan ‘’GEDUNG KEDUTAAN’’. Dev mulai sibuk mengemasi ransel hitamnya yang terbuka. Menyetel kamera digital yang telah dilengkapi ‘’Voice Audio Respons’’ VAR 623 buatan Amerika. Diprogram untuk merekam suara ketika menjepret gambar. Salah satu taktik menjadi agen mata-mata rahasia sewaktu ia latihan militer di Pakistan. Sebuah taktik rahasia yang biasa dipakai CIA ataupun FBI.

‘’kum ya akhi’’, Dev menepuk pundak yasser,membangunkannya. Pemuda itu mengeliat sambil membenarkan arah kacamata yang mulai menyikut hidungnya. Didalam tidur ia bermimpi bergulat dengan anjing-anjing pelacak tentara yang kejam. Ia mencium anyir darah bersimbah didedaunan zaitun. Yasser tersenyum. Devid pun tersenyum. Senyum yang hanya mampu dibaca oleh semilir angin dikotaku.
*

Halaman gedung kedutaan serupa dipenuhi semut-semut hitam berdasi. Pakaian-pakaian mereka, obrolan mereka, tawa mereka, sangat berbeda dengan orang-orang dikotaku, yang hanya bercerita tentang kelaparan, jiwa-jiwa yang mati, dan mata air yang mengering di telaga Al-gharrabi.
Ribuan tentara yang bertugas semakin mempersempit ruas jalan. Lidah-lidah berdecakan mencipta kebisingan. Yasser dan Devid memasuki sebuah ruang oval berlabel ‘’RUANG PERTEMUAN’.  Terlihat beberapa anggota bagian tinggi senat meneliti arsip laporan dari intelligen. Komisi tinggi senat tidak akan memberi ampun bagi mata-mata yang berkeliaran digedung kedutaan. Kepala mereka tentu saja bisa menjadi sasaran empuk senapan.

‘’tenang kawan ! jangan cemas ! ‘’ Dev menepuk pundak Yasser  sewaktu membaca keraguan di kedua matanya.

‘’apa kau yakin misi ini akan berhasil Dev ?’’
Ia hanya tersenyum sembari berdiri kearah jendela. Menyapu pandangan pada asap-asap hitam yang mengepul.

‘’Allah akan selalu bersama hamba-hamba yang berbuat baik dijalan-Nya. Innallaha ma’ana, Allah bersama kita, InsyaAllah.’’

*

Ramallah, 21 maret

                Pemuda itu terus mengeliat dibalik gang-gang pasar kota Ramallah. Dari jauh kudengar mulutnya terus mengerang kesakitan. Sesekali erangan itu berubah kalimat tahlil yang menebarkan semangat jihad para mujahidan yang sedang diincar mulut-mulut bazoka tentara jahanam itu. Pegangan tangan dilutut kirinya semakin kuat menahan aliran darah yang membuat betis putihnya menjadi merah. Algojo jahanam itu sempat melayangkan dua butir peluru kelutut kirinya, ketika ia berlari mencari bantuan keperbatasan al-gharrafa.
                Sementara diudara helikopter-helikopter apache terus memburu. Ledakan demi ledakan menggugurkan dedaunan pohon disampingnya.  Membangunkanku yang telah lama lama terlelap. Baru saja aku berdiri dan hendak keluar, sang bayu mendorongku kembali.
                Asap dan debu mengepul kelangit. Mengakhiri ledakan bercampur teriakan dan jeritan. Meski tidak berada disana, namun aku mampu melihat tubuh-tubuh hancur itu berhamburan dijalanan,  gedung-gedung terbakar yang tinggal sejengkal dengan tanah, pasir-pasir yang mengepul kelangit , batu-batu, jalanan yang menyatu dengan kabut, bahkan ketika ku mendogak keluar langit kotaku demikian kelam.
                para lelaki akan memeluk istri dan anak-anaknya yang tidak lagi bernyawa. Tengkorak-tengkorak pejuang kan menggelinding dijalanan. Sungai al-qasam mengeruh merah, membawa kalimat jihad itu kelaut mediterania.
Pandangannya makin berat menatap senja yang menutupi kota. Dalam hati ia bertanya ‘’kapan senyum itu akan mengembang disini? ‘’ bukan lagi senyum dalam lontaran batu, mesiu dan peluru. Memang selama ini ia tersenyum. Tersenyum ketika anjing-anjing pelacak itu mengoyak tubuh wanita dan anak-anak. Tersenyum ketika roh-roh pendahulu kami terbang ke jannah Azzawajala. Kapan kota ini akan tersenyum melihat anak-anak mereka tidur terlelap. Melihat para pemuda tenang merapatkan shaf di Al-Aqsha. Melihat ibu-ibu menyucikan baju dan membuatkan susu untuk bayi-bayi mereka. Melihat anak-anak bernyanyi Biladi biladi di hadanah. Bermain, tertawa, belajar merangkai kata merdeka untuk palestina.
*

Terowongan, 21 maret

               Seorang laki-laki tengah terengah-engah memopong temannya menuju terowongan. Disibaknya semak-semak yang menutupi jalan. Beberapa orang laki-laki membantu menurunkan Yasser yang terkulai lemah.

‘’hati-hati !’’, ucap Devid sambil menutup pintu terowongan. Udara segar berganti padat dan pengap. Hanya laring-laring kecil tempat silih bergantinya udara. Bau sampah, keringat dan mayat membaur. Devid menutup hidung.

‘’hidup mengendap serupa ulat, mati, dan menjadi bangkai ulat yang kelaparan. Ini rumah sekaligus kuburan. Hidup berdampingan dengan orang-orang yang telah mati. Melihat wajah-wajah mereka tersenyum menyaksikan keindahan syurga. Semua orang pasti akan kembali menjadi tanah bukan?’’ ujar syeikh Ahmad sambil menepuk bahu devid.
Kemanapun kami pergi, keseluruh penjuru sudut kota ini, sindrom kematian itu terus menyusupi dada-dada kami. Kami lebih senang mati seperti ini. Mati dalam keadaan utuh, tenang dan damai. Dari pada mati serupa binatang. Mati dihujami rudal dan peluru. Dan melihat tubuh-tubuh hancur berhamburan. Tidak adakah yang tahu betapa berat arti sebuah kehilangan. Memporak porandakan keharmonisan yang susah payah kami bangun. Melenyapkan nyawa bayi-bayi yang tidak mengerti arti sebuah pertempuran.
Maka ditempat inilah kami membesarkan bayi-bayi kami. Mengajarkan mereka merangkak dalam gelap. Mengajari mereka arti sebuah perdamaian, cara memuji tuhan dan membaca al-qur’an.

 Ya, membaca al-qur’an. Bahkan setiap waktu selalu ada anak-anak kami yang hafal al-qur’an. Rukuk dan sujud bersama, menangis bersama dan berdo’a bersama. Dari pada diluar sana, kami melihat setiap hari kitab-kitab kami dibakar, dan masjid kami merata dengan tanah.
Disini waktu bagi kami hanyalah kegelapan. Tak ada pagi dan siang. Tak ada panas dan hujan. Kami bukan lagi manusia yang terikat dengan matahari. Tentu kami juga merindukan langit, awan-awan dan rerumputan. Merindukan matahari terbit dan tenggelam. Merindukan berdiri diatas kaki kami sendiri.
Disini penglihatan dan pendengaran kami menjadi luar biasa. Setiap sa’at terdengar suara dentingan sendok beradu dengan piring mereka. Suara kran air mereka ketika mandi, suara radio yang mereka setel dan acara televisi yang menyajikan siaran kekejaman mereka. Kami melihat anak-anak mereka berseragam  bersih dan rapi berangkat ke sekolah, sedangkan pakaian anak-anak kami kumuh Karena harus merunduk didalam tanah. Kami melihat lampu-lampu mereka terang menyala, sedangkan kami harus mencuri minyak dari tank-tank baja mereka.''
*

Ramallah, 22 maret

                Sebagian dari orang-orang itu sudah kembali untuk menyelamatkan diri. Sedang aku masih terbaring kaku disini. Sesekali keluar menjenguk angin yang berdesir dihamparan pasir-pasir. Menyaksikan gemintal kabut mengangkat roh-roh mereka. Entah sudah berapa lama aku berjalan sampai kemudian sampai ditempat ini. Sebuah kota yang tinggal puing. Tak ada tanda-tanda bahwa kebahagiaan pernah singgah ke kota ini.
*
                Dua orang laki-laki itu terus menembus belukar. Rumput-rumput liar telah berubah kehitaman akibat debu dari bom-bom asap. Tujuan mereka adalah ujung jalan al-Gharrafa. Untuk mencapainya dibutuhkan jalan kerikil yang menanjak. Sungguh sulit bagi Yasser yang harus berjalan terpincang. Belum lagi ancaman dari tentara biadab yang siap membredel tembakan kearah mereka.
                Sesampainya di perbatasan Raffah, mereka akan menumpang truk bantuan kemanusiaan dari mesir. Kemudian menemui dewan keamanan PBB dan menyerahkan rekaman dokumen penting yang tersimpan di ransel mereka. Membongkar kebohongan mereka dimata media dan dunia.
‘’Apakah kau yakin ini akan aman, Dev ?’’ Yasser yang terpincang-pincang mulai tanpak kelelahan.
‘’Berdo’alah ! mudah-mudahan jiwa kemanusiaan mereka timbul untuk para jurnalis seperti kita’’.
Devid dan Yasser tersenyum bersamaan. Senyum yang hanya mampu dibaca oleh angina dingin di kotaku.
*
                Teriakan jihad menembus kabut, menelusup pemandangan. Bau mesiu dan asap menyatu dengan lemparan batu dan hujaman peluru.
‘’khaibar khaibar ya yahuudd’’.  Yel-yel kebencian mulai terdengar diteriakkan. Helikopter-helikopter Apache mengoperasi udara. Ledakan demi ledakan menyinari kegelapan.
‘’Allahu akbar, jasyu Muhammad saufa yauud’’. Teriakan-teriakan itu beradu dengan suara peluru yang menembus dada mereka. Akupun berlari keluar mendekati tubuh-tubuh lemah yang tersungkur. Namun sayang, aku keburu jatuh menimpal gundukan pasir-pasir. Kemudian aku menemukan sebuah mata air. Warna merah dan pekat seketika membanjiri tubuhku.
*
                Devid dan Yasser memotong jalan kosong al-Gharrafa. Dari arah timur dan selatan dua buah helikopter Apache mengikuti. Bom-bom berjatuhan. Dev dan Yasser memacu langkah sekuat tenaga. Yasser yang terpaksa berlari sambil memegangi lutut kirinya kehilangan keseimbangan. Sekonyong-konyong tubuhnya terjerembab ketengah hamparan pasir-pasir. Dari arah utara dan barat dua buah tank baja mendekat. Namun sayang, Devid yang sudah terpisah jauh tak sempat menarik tangan Yasser. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya diburu rasa cemas dan takut yang saling beradu. Terlihat dua orang berseragam berbadan tegap keluar , memukul jidat Yasser dengan ekor senapan.  Yasser terjerembab. Akupun berlari dan mengejarnya. Tiba-tiba, ‘’Dor…Dor..Dor..’’ letupan-letupan itu kembali membuatku terjerembab dihamparan pasir-pasir. Dengan lembut kuusap kedua pipi Yasser. Seketika mata air itu kembali memuncrat menggenangi tubuhku. Sebuah mata air yang lain. Bewarna merah, bermuara disekitar tubuhnya.
Dari kejauhan Yasser sempat melambaikan tangan dan tersenyum kepada devid. Sebelum kepala dan dadanya dibredel dengan rentetan peluru.
*
                Jalan lebar dan terbuka mulai terbentang dihadapannya. Sedih, senang dan takut menelan bulat-bulat hati Devid. Dari kejauhan sebuah truk melaju kearah dimana ia berdiri. Dalam hati ia yakin itu sebuah truk kemanusiaan. Devid mencoba melambaikan tangan. Seorang laki-laki mengulurkan tangan keluar, ‘’Dorr’’… sebuah benda bulat tumpul meledak menerkam dadanya. Devid terjerembab. Sebagian tubuhnya menyentuh bidang jalan. Aku pun berlari menuju Devid. Namun terlambat, tubuhku kembali jatuh menyentuh pasir-pasir.
Dua orang berpakaian militer turun. Salah seorang merenggut ransel dari punggung Devid, sebelum dua butir peluru lagi dilesatkan kearah leher dan dadanya. Bus itu kemudian melaju kencang meninggalkan Devid yang sedang diambang syurga.
Seketika mata air itu juga memuncrat disekitar tubuh Devid. Membasahi tubuhku yang masih terjerembab dihamparan pasir-pasir.
                
Ternyata, inilah mata air lain yang dijanjikan oleh Allah sebagai teman untukku. Mata air yang memuncrat dari tubuh mujahid-mujahid kota tua, Palestina. Teman abadi yang akan menjadi saksi untuk mereka para mujahid ini, kelak di syurga.

*

Note
Kum ya akhi : bangun ya saudaraku
Hadanah : taman kanak-kanak
Biladi-biladi : lagu kebangsaan palestina



CERPEN FIRMAN NOFEKI DALAM BUKU ANTOLOGI CERPEN '' PERAHU TULIS ''

ANTOLOGI CERPEN REMAJA SUMATERA BARAT '' PERAHU TULIS ''






LILIN-LILIN KERTAS

            ‘’Apa yang akan kau fikirkan,ketika kertas dan lilin-lilin ini menyatu’’?
‘’Aku yakin, kertas ini akan menjadi abu,dan lilin-lilin ini akan lekas mencair tanpa perlu menunggu waktu’’.
Seketika tangan-tangan itu memeluk tubuh mungilku. Serentak menciumi pipi dan keningku. Kedua pipiku hangat disirami air mata mereka yang menggelegak bahagia.
Lembaran-lembaran kertas itu menggigil ditiup angin. Sesekali berhamburan menabrak dinding-dinding kayu. Perlahan alunan lagu ‘’HAPPY BIRTHDAY’’ mengalun dalam ruangan 4x4  itu.
‘’Jadilah lilin-lilin itu,anakku ! yang tidak pernah habis sebesar apapun api membakarmu. Jangan kau menjadi kertas ! meskipun kecil api yang membakar, kau akan tetap sirna sebagai abu’’.
Amak memandangku lekat-lekat. Kedua tangannya kini berada dikedua pipiku. Kemudian kami bertiga berangkulan dalam tawa bercampur air mata.

Ah… tapi itu dulu kawan. Sebelum kenagan-kenangan itu sempat kubakar menjadi masa lalu.

*
            Hujan baru saja reda. Tinggal sisa-sisa gerimis kecil, dan bau lembab udara menempel sebentuk bulatan kristal  dikaca jendela koridor. Kulirik arloji, jam menunjukkan angka 16:30 wib. Dua jam lebih aku terkurung hujan deras,sendirian di bangku koridor sekolah. Kuhentikan suara harmonika yang menyayat. Kutatap langit. Senja perlahan menyelimuti kota. Masih bewarna keruh,bukan keemasan. Masihkah langit menyimpan bubuk hujan, yang siap turun kapan saja. Tanpa terus berfikir,segera kukejar waktu. Jalanan terasa licin dan berlenyah. Roda sepeda ontel ini menjerit setiap kali ku percepat putarannya. Usia yang sudah seperempat abad membuat jari-jarinya mulai mengerut. Sebagian bautnya sudah longgar,bahkan ada yang tanggal. Warisan dari kakek kepada abah. Dari abah diwariskan kepadaku. Kelak, jika masih panjang usianya akan kuwariskan lagi kepada anak-anak dan cucuku. Agar pewarisnya selalu dikenang sepanjang masa.
            Diseberang jalan, anak-anak telah ramai pergi mengaji. Wan Nipah melambai dari jenjang surau. ‘’ ndak kesurau kau ing’’?
‘’Yo, sabanta lai’’.
Wan nipah masuk kedalam surau. Biasanya dia akan mengaji lima belas menit sebelum adzan dikumandangkan. Senja begitu suram. Begitu buram. Tapi aku bisa menangkap cahaya dari mata amak,melihat anak semata wayangnya ini pulang agak terlambat.
‘’Mak sudah siapkan air hangat untuk mandi,lekaslah’’ !
‘’iya mak’’. Aku mencium tangan amak yang berbau asap. Berarti amak baru saja dari dapur. Dari balik serambi, telingaku menangkap alunan melodi khas minang dari saluang abah. Menikmati senja dengan irama saluang, sambil memandangi hamparan sawah dan gunung-gunung yang berdiri megah adalah kenikmatan tersendiri bagi abah.
*
            ‘’Sudahkah kau beri makan anjing-anjing itu Sum’’? wanita yang acap kali dipanggil Sum itu terperanjat. Baki yang berisi piring-piring kotor ditangannya hampir jatuh, pecah berserakan. Kemudian bergegas kebelakang. Dengan wajah gugup dibawanya dua mangkok makanan anjing,dan ia masukkan kekandangnya. Mak hampir terjerembab menaiki tangga ketika anjing-anjing itu dengan kerasnya menyalak. Marah karena jatah makannya terlambat pagi ini.
            Kadang, aku kasihan melihat amak, yang diam-diam membekam air mata dibalik kulit-kulit tuanya yang mulai keriputan. Seolah kami menjadi kambing hitam dari PHK yang dialami abah lima tahun silam. Di PHK dari perusahan marmer milik belanda di Aceh, yang mengalami kerugian besar akibat tsunami. Seolah menjadi meriam hitam bagi abah. Acap kali meledak, menggoncang seisi rumah. Kamilah korban yang menelan abu dari ledakan amarah yang sungguh dahsyat.
Kehidupan kami berubah 180 derajad. Rumah di aceh dijual. Rumah berukuran 6x4 inilah hasil dari penjualan itu. Dan dua petak sawah yang yang kini masih tergadai ditangan Wak Ramlan. Rumah yang tidak secara penuh ditutupi atap. Bila hujan deras mengguyur,kami terpaksa hidup mengendap-endap dalam semesta yang lembab. Merayap-rayap dalam gelap. Maklum,listrik memang belum sempat menyentuh kampung kami. Sering terbayang dalam fikiran untuk kembali hidup berkecukupan. Sering aku mendengar sendok berdenting menyentuh piring. Decak mulut yang dipenuhi makanan dan sendawa. Berbincang-bincang sambil menonton televisi. Semua adalah hayal yang bermedan dalam frustasi.
           
Dirumah kayu inilah kami hidup dan bernafas. Bergerak dan beraktivitas. Pada mulanya memang terasa menyiksa. Punggung terasa pegal bangun di pagi hari, karena harus tidur di atas dipan beralaskan kayu dan jerami. Meskipun selalu kedinginan,alhamdulillah kami masih bisa makan. Meskipun kadang Cuma sekali sehari. Hasil pekerjaan amak sebagai petani garapan tidaklah seberapa. Dengan kebiasaan menyisihkan segenggam beras setiap kali tanak mampu menjadi penolong ketika beras dalam buntil benar-benar telah habis.
 Bila memang tidak ada yang akan dimakan, amak biasanya akan membacakan sajak untukku. Kamipun akan terlelap dalam rintihan perut menahan lapar.

Coba lihat nak,coba lihat
Karung beras yang menganga disudut lumbung
Dan periuk kita menggelegak menanak remah harapan
Akan kau dengar anakku,deraman-deraman nakal disisi lambungmu
Coba lihat nak
Bara kehilangan api
Cerobong kehilangan asap
Buntil-buntil melapuk dimakan cuaca
Tapi cukuplah anakku, keringat putihmu yang kau rasai
Dan dingin jemariku menyentuhmu hingga esok pagi

*
            ‘’Sudah kembali abah dari rumah Wak Ramlan itu bah’’?
‘’sudah, Wak Ramlan bilang sudah menyewa organ tunggal untuk alek anaknya nanti.’’
Suara abah lirih. Matanya cekung lurus menyapa langit-langit. Dihisapnya cerutu kuat-kuat. Asap-asap putih mengepul di udara. Berangsur-angsur hilang terbawa angin. Lenyap bersamaan dengan beban fikiran. Amak hanya terdiam,tidak kuasa lagi menjawab suara putus asa abah. Kepalanya terus menekur pada kain sarimin ditangannya. Sebentar-sebentar ia berhenti. Berdiri mendekati jendela. Menembus pandangan melalui kaca yang sebagian pecah dan retak. Menatap kaki gunung Sago yang menancap kuat hingga ke ulu hati. Padi-padi merunduk menahan beban. Sebuah serambi kayu disudut rumah kini bisu. Kedinginan ditempatnya.
*
            ‘’Minangkabau tanpa saluang tidak bisa lagi disebut minang. Minang akan hilang,akan tinggal kabau yang sangat sulit ditusuk hidungnya. Keras. Sama seperti hati orang-orang minang masa kini,yang tidak pernah lagi tersentuh budaya-budaya minang.’’
Aku teringat percakapan dengan abah diserambi sebulan lalu. Begitu kuat budaya minang ini mengakar kehatinya. Lebih kuat lebih kuat dari akar-akar pinus yang menancap dilereng-lereng gunung Sago.
            Di PHK dari perusahan marmer membunuh semangat hidup abah. Lebih banyak mengurung diri,seperti matahari yang kehilangan timur untuk terbit. Sejak itulah hidupku dihiasi cerita-cerita yang keluar dari bibirnya. Cerita tentang saluang sebagai budaya minang yang harus dilestarikan. Kadang-kadang cerita tentang binatang buruannya yang lari ke arah rimba. Dicabik-cabik sepuluh ekor anjing sekaligus.

Sering terdengar suara piring dibanting,atau gelas pecah bergeming jika perburuannya gagal.
‘’harusnya abah bekerja,bukannya menghabiskan waktu untuk berburu yang tidak ada manfaatnya’’.
‘’Jangan kau menceramahiku Sum’’, PLAKK’’
Tempeleng itu meluncur bak roket berkekuatan 235 Km per jam.  Maka akan terdengar suara pintu dibanting. Tangis amak akan pecah menyapu langit.
            Jati diri abah perlahan muncul semenjak bergabung dengan grup randai Haji Romlan sebagai pemain saluang. Grup ini begitu tenar dimasyarakat. Tapi Cuma dua tahun, sebelum organ tunggal memasuki kampung kami. Banyak grup-grup saluang dan randai mulai gulung tikar. Sekarang, dimana ada perhelatan pasti akan dihiasi dengan organ tunggal. Penduduk kampung akan membawa anak-anak mereka untuk menonton.bahkan sampai bergadang hingga larut malam. Yang mereka saksikan bukanlah musik atau nyanyiannya, tapi artis-artis berpakaian seksi yang meliuk-liuk di atas pentas. Kalaupun ada acara saluang paling yang akan menonton hanyalah bapak-bapak tua yang memang hatinya telah melekat dengan saluang. Biasanya yang masih bersedia memanggil saluang untuk helat hanyalah penduduk yang ekonomi rendah yang tidak mampu memanggil organ tunggal yang ongkos sewaannya jutaan. Berbeda dengan saluang yang hanya dihargai tujuh ratus ribu dari malam sampai pagi. Hasil itupun harus dibagi dengan tujuh orang teman abah. Situasi itulah yang membuat tawa dirumah ini sering terbenam. Hanya ada murung. Dingin dan sepi. Semua dibungkus perasaan temaram.
           
Aku duduk menjuntai dipinggir serambi. Terlihat rambut putih abah mengkilap tertimpa cahaya senja. Perlahan abah meniup saluang ditangannya. Irama-irama semesta mengalun. Suara yang keluar begitu menyedihkan. Menyayat. Tidak menyisakan ruang kegembiraan untuk selarik senyum yang kurindukan.
*
            ‘’Bah, anjing-anjing itu sepertinya sudah kenyang diberi makan. Sedangkan diri abah sendiri dari tadi sore belum makan’’,ucap amak getir. Dengan wajah sayu ia berdiri di depan pintu. Angin sepoi mengibas rambut amak yang mulai memutih satu persatu. Abah memalingkan muka.mengangkat dua mangkok kotor bekas makanan anjing.
‘’Sudahlah!tidak usah hiraukan abah. Kalian sajalah yang makan,abah sudah kenyang’’.
Matanya tengadah menatap langit. Mencari arti kegelapan.
‘’Tapi bah, dari tadi siang kan’’……
‘’Sudah, sudah… abah sudah kenyang. Kau jangan membantahku sum!’’
Garis kekesalan mulai tampak dari ucapan abah yang memotong kata-kata amak. Amak terdiam. Ia mengerti, kalau terus mengajak abah hanya sebuah kebodohan yang akan meledakkan meriam hitam dihati abah. Hati amak bergemuruh. Hujan dimatanya ingin segera turun, namun dibekamnya kuat-kuat. Amak kembali ke meja makan dengan tangis yang tertahan. Kami pun makan tanpa abah. Ada rasa iba menari-nari disetiap suapan nasi kemulutku.
*
            Lebih dari seminggu, semenjak usahanya gagal menawari mengisi saluang pada acara alek anak Haji Ramlan abah lebih banyak mengurung diri. Hilir mudik tak karuan. Kadang-kadang menyendiri diserambi. Pikirannya menerawang entah kemana. Kepuncak gunung Sago yang menjulang di udara,atau pada kemuning padi yang menunggu musim panen tiba. Abah tak pernah keluar rumah,kecuali ada teman yang mengajak pergi berburu. Begitulah, betapapun besar masalah yang dihadapi,ajakan berburu adalah angin segar yang kembali mengencangkan urat sarafnya. Kalau aku coba bertanya kenapa abah sangat suka berburu,jawabannya pendek saja,
‘’Kalau tidak berburu kedua anjing ini akan mati kelaparan.’’
Apalagi kadang diperburuan itu ada diadakan semacam taruhan.  Tentu bagi anjing mereka yang sanggup mematikan binatang buruan yang akan memenangkannya.
           
Seperti hari ini. Wak Ramlan mengajak abah berburu ke ‘’Bukit Rimbo Batu’’. Sebuah bukit yang di penuhi tumbuhan pinus besar-besar. Rumputnya mencapai lutut orang dewasa,yang menutupi jurang-jurang terjal disekelilingnya. Batu-batu besar dan terjal seringkali menjadi ranjau bagi orang-orang yang berjalan di dalamnya.  Wak Ramlan berani mengganjal tiga ratus ribu kalau anjing abah mampu melumpuhkan satu ekor babi. Sepulang dari rumah Wak Ramlan kemaren wajah abah tampak lebih bahagia. Sepanjang malam hanya berburu saja ceritanya. Aku dan amak hanya bisa mengurut dada.
*
‘’Woiii….Kandiak gadang lari ka rah rimbo!’’ seorang pemburu berteriak dengan lantangnya,sambil menunjuk ke jalanan kosong diantara rentetan pinus yang menjulang tinggi di udara.sontak anjing-anjing mereka dilepaskan. Dengan garang dan liarnya anjing-anjing itu berlari mengilas rerumputan dan ilalang. Dibelakang, para pemburu dengan ligatnya mengikuti anjing-anjing mereka. Sorak mereka membahana di udara.
Abah berlari dengan kencangnya. Nafasnya memburu. Tidak sabar melihat taring anjing-anjingnya menempel dikulit babi hutan yang kini sedang diburu. Ia kerahkan sisa tenaga. Keringat membasahi . melunturkan debu-debu kotor diwajahnya. Kaos tipis yang ia kenakan telah menempel dibadan akibat keringat yang melekat.

Tapi apa bisa dikata, kaki abah menabrak sebuah batu besar yang tak kasat mata,karena ditutupi oleh rerumputan hijau yang tinggi. Tak ayal,tubuh abah terpelanting tepat dibibir jurang yang tak terlihat oleh ilalang yang menutupi. Hanya teriakan abah yang terdengar oleh Wak Ramlan yang berada dua puluh meter dibelakang abah. Suasana di perburuan berubah mencekam. Keringat dingin mengalir deras,seirama degup jantung yang begitu kencang. Bulu roma ikut menegang. Beberapa orang mulai mencoba turun ke dalam jurang. Kondisi jurang yang dalam membuat orang-orang kesulitan. Ditambah lagi belukar yang merambahi sekeliling jurang.
Langit temaram. Berubah mendung. Kemudian berubah rintik-rintik air. Suara gemuruh dan halilintar berpadu loncatan alam. Semakin malam hujan turun semakin tidak karuan saja. Guruh tak henti berkelakar menggeluti kecemasan.
*
            Semburat sinar fajar menyibak kegelapan yang menyergap alam semalaman. Wajah Wak Ramlan yang bercerita semakin menegang. Amak bersandar lesu didekat dinding kayu. Dua tetes bening sudah acap kali ia tepis dengan kerudung putihnya. Akupun hanya mampu membisu sambil memeluk kedua lutut. Mengatur nafas yang tidak lagi stabil.
Tak lama, seorang pria kurus berlari dengan tubuh kotor. Ia berdiri didepan pintu. Ia bungkukkan tubuh sambil memegangi kedua lututnya. Ia mengatakan bahwa jasad abah tidak ditemukan tepat dimana ia jatuh. Kemungkinan terbesar yang terjadi, tubuh abah telah diterkam binatang buas,dan diseret entah kemana. Suasana dingin itu berubah erangan panjang dari amak. Begitu menyayat.
Amak pingsan selama dua hari. Namun satu hal yang tidak bisa kulupakan, kejadian itu tepat disa’at usiaku menginjak 17 tahun. Sebuah kado terburuk yang mengajarkanku arti perih sebuah kehilangan.
Satu bulan, jasad abah belum jua ditemukan. Entah diamana keberadaannya. Tersangkut disebuah cabang pohon,atau jatuh kedalam sungai dan hanyut entah kemana. Atau memang telah dimangsa hewan buas dan dibawa kesarangnya. Apakah abah masih hidup dan kini sedang barada disuatu tempat. Allahu’alam. Tapi yang jelas aku telah rela menerimanya. Meski sesekali masih kudengar dipenghujung akhir malam isak tangis amak, yang menyajakkan bait-bait kehilangan setiap aku tidur dipangkuannya.

Coba baca nak,coba baca
Berita ayahmu yang jatuh dari ketinggian-
Disebuah akhir malam
Tutup telingamu, dikalau
Dentuman keras itu membuat nafasmu sesak
Dan darahmu deras menggelegak
Agar malam ini,anakku
Amak melihatmu telentang tanpa nyanyian abah
Dan tanpa decitan periuk
Pertanda nasimu masak diperapian

Lalu kami akan sama-sama menangis dalam kesunyian. Kini saluang bambu itu merenung sendiri kehilangan majikannya. Mulai melapuk dimakan cuaca.

*
            Masih terdiam. Kupandangi tumpukan-tumpukan kertas berdebu di atas sebuah meja kayu. Entah apa penyebabnya berdebu. Debu-debu dari jalanankah? Atau akibat telah lama tersentuh waktu.
Debu kusapu dengan tangan. Disetiap lembar terdapat coretan-coretan yang sudah tampak kusam. Sesekali kuberdiri kearah jendela kayu. Menembus pandang pada kabut yang menyekap penglihatan. Menatap serambi yang bisu,kedinginan ditempatnya.
 Mualai kubaca kertas itu lembar demi lembar, berteman lilin yang menyadap kegelapan. Air mataku meleleh  disebuah kertas yang sudah hamper sobek. Kubaca lagi tulisan itu dalam-dalam.
‘’Jadilah lilin-lilin itu,anakku ! yang tidak pernah habis sebesar apapun api membakarmu. Jangan kau menjadi kertas ! meskipun kecil api yang membakar, kau akan tetap sirna sebagai abu’’.
Sekarang aku benar-benar mengerti apa yang akan terjadi ketika kertas dan lilin itu menyatu. Sebelum kenangan itu benar-benar kubakar menjadi masa lalu.

Selesai

-Cerpen ini dilengkapi dengan puisi ‘’REPORTASE SEBUAH AKHIR MALAM’’,Karya Firman Nofeki (pengarang)

PUISI FIRMAN NOFEKI DALAM ANTOLOGI NASIONAL '' EPITAF ARAU '' : KADO UNTUK KOTA PADANG TERCINTA



Judul Buku : Epitaf Arau
Kategori : Buku Puisi
Penerbit : Senikata
Tahun Terbit : April, 2012
Tebal : 300halaman
ISBN : 978-602-9968-5-1

   Membaca puisi pilihan yang ada ada dalam buku ini seperti kita membaca sejarah dan keindahan Kota Padang yang terkenal dengan budaya dan sastranya. Kita akan dibawa oleh keindahan metafor yang tersebar dalam 150 puisi yang tergabung dalam buku ini. Para penyair seolah hendak menceritakan dan mengungkapkan kebanggaan juga keluh kesahnya tentang Padang secara kritis melalui keindahan puisi.

   Buku kumpulan puisi setebal 300 halaman dengan cover yang teduh menggambarkan suatu dermaga yang dihiasi langit biru cerah menandakan bahwa Padang menjadi salah satu kota menawarkan keindahan, maka tak heran banyak wisatawan domenstik atau pun wisatawan asing berlomba-lomba berkunjung kesana. Kesan yang sama juga bisa dirasakan oleh para penyair nusantara yang tergabung dalam buku ini, mereka mencoba merekam jejak sejarah,budaya dan keunikan lainnya. Cerita Malin Kundang, Siti Nurbaya adalah contoh nyata cerita yang melegenda sehingga banyak penyair yang ingin mencetaknya dalam sebuah sajak yang penuh keindahan. Sejarah kota tua, keindahan pariwisata atau bahkan wisata kuliner bisa dijadikan imanjinasi yang apik dalam penggambaran puisi-puisi yang manis.

   Seperti puisi Firman Nofeki, penyair  yang puisinya termuat dalam antologi  Epitaf Arau berikut ini :
DESAU NYIUR PELABUHAN MUARA

dari pelabuhan muara sampai batang arau
arakan tualangku merapati nostalgia

kunamai rindu purnama dalam gelora siti nurbaya
membesat lambai nyiur, kemudian kucintai bibir angin
mengecupi tali pusar maringgih penuh nafsu
sembunyi dibalik bayang-bayang mitos tujuh anak bajang
berlari dibuai sayup rampai muara

disulut kenangan, rasa rindu jumpalitan
dituding riak panas ruas jalan, menyebrangi hilir gunung
kelelawar mendengus sepanjang perairan
mengalirkan aroma candu nasi kapau
dari rongga nyiur sampai batang arau
makin kupunguti resonasi untung tubuhku

langit memerah, awan-awan menyuguhkan panorama pelabuhan muara
pada semilir batang arau, tempo dulu di minangkabau
desau nyiur meniup payudara-payudara lumbung
melata ditangan belanda, membakar sendi hidup
dioperasi sepanjang pelabuhan hingga ruas jalan
gajah maharam digiling dalam frustasi

meledakkan purnama direntang punggung adat
melibas naga senja dilekung cakrawala
menyeruak dentuman mesiu tahun baru
meratapi petitih syara' yang dirumpangkan
bugil petasan sampai bola mata api
meledak di hulu kaki siti nurbaya

dari pelabuhan muara sampai batang arau
teluk bayur dijejali puntung kemarau
mereguk tangis ombak pantai air manis
membiru dirupa batu malin kundang
dekami sujud seujud roh miskin
purnama menyapu tatanan alis wanita tua
membasuh sumpah serapah beraroma garam lelautan
angin semilir menyapa gladak sampan buana
topan bersiul, merundung tidur kata-kata

nyiur melambai hingga batas parak lengang
lobang batas muara menyelami ekor ganggang caroline
mengartupkan imaji sebatang pohon bakau
kuseduh sepanjang mesiu perjalanan
ah, aku lupa menuruni lubuk minturun

pasir putih pantai jambak akhiri letupan kelam aroma sya'ban
dari keheningan hingga keramaian
mengakhiri panorama pelbuhan muara sehiliran batang arau
tempo dulu diminangkabau

payakumbuh, 03-09-2011

LAGU AIR MATA

         : sehari mengunjungi batu malin kundang

aku layaknya batu
mengulur kedurhakaan pada kalam
waktu ini tobatku
merentang sumpah ibu didada bisu

aku layaknya air mata
sepanjang sujud raga, seteguk belasungkawa
mengalir tangis sepanjang pantai air manis

payakumbuh, 04-09-2001

Sabtu, 16 Agustus 2014

SECEPAT PERJALANAN HUJAN KE BUMI, BEGITU RINDU DAN BAYANGMU BERKEJARAN DI KEBUN HATI ^_^

* rindu adalah mahkota kebesaran yg kukenakan, berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.
padamu, apa yg kusebut sebagai cinta tak lebih tegar dari setetes embun yg berhastrat meretaki bebatuan, tak lebih khusyuk dari do'a-do'a yg kuisyaratkan dalam munajat-munajat hening pengharapan
jika jarak adalah sungai, kamu adalah hulu, kekasih,
tempat do'a-do'a yg kuhanyutkan kehilangan hilir.
kamu adalah harapan, yang memaksa untuk terus ku ulur, bahkan lebih abadi dari keabadian (firman nofeki)


*jika yg engkau miliki adalah cinta mati, maka hatiku adalah makam yg tepat untuk mengbadikan jasadnya (firman nofeki)

* aku masih terus mengingatmu, dan membiarkan kenangan itu lesap menguap kedalam lapisan hari-hari.
agar disetiap pagi, kenangan tentangmu kembali mengembun difikiranku. meluruhkan semua rasa itu, utuh
dan putih (firman nofeki)















FIRMAN NOFEKI

16-08-2014