Jumat, 27 November 2015

SEBUAH SAJAK UNTUK DESA GEMA

MEMBACA GEMA


Di setiap ukhwah yang kita tanam di jantung pertemuan
Ada kenangan yang tumbuh
Ada cinta yang bersemi
Ada kerinduan yang jatuh
Ketika angin melemparkanku kembali ke peraduan

Di setiap cerita yang tak habis disapu angan
Kubawa senyuman yang tak tertulis
Ada getar yang memacu debar
Ada tulus kasih yang terpancar
Kala gaung perpisahan itu menggema
Dari lembah air mata yang tiada mampu kubaca

Wahai syurga yang diselimuti kerimbunan
Kutitip hijau kisahku disini
Yang akan dibacakan cericit merdu camar
Bersiul sendu di batinmu
Gema yang ssenantiasa berdenting di telinga khatulistiwamu
Di ruang tunggu waktu
Ada hati yang senantiasa menoleh padamu

Dengan tangan-tangan do’a | kujangkau jua engkau
Kujabat lentik jemari fajarmu
Yang pernah merangkai bait-bait hari baru untukku
Ada cahaya harapan yang serasa menancapi ubun-ubun
Mencari celah kerinduan yang belum mampu kutuliskan dengan runtun

27 November 2015

Rabu, 24 Juni 2015

Sepi berlayar sepanjang Ajal

hatiku sudah terlalu subur jika untuk disiram dengan air mata
mataku terlanjur beku untuk menggugurkan lagi gerimis-gerimis kenangan
yang pernah terlampau pahit diseruput usia
demi kata yang pernah kutanam di sepanjang jalan do'a
Dialah yang kini ku sebut ''cinta sepanjang jalan usia''


meski habis usiaku di cabik layar waktu
kujahit do'aku di semilir angin
karena hanya do'a yang kekal
sepi hanya mampu berlayar sepanjang ajal
sayang,
tak lagi kujemput bayang-bayangMu pada ufuk matahari
yang biasa kubentang sepanjang senja yang gamang
sa'at angan begitu kusyuk memeluk cakrawala
biar hati nan namaMu kugulirkan sepanjang tebing sembahyang

Senin, 15 Juni 2015

KUMPULAN KATA-KATA MORIVASI, HIKMAH, DAN ROMANTIS

kematian terlebih dahulu membiarkanmu mendandani tubuh kesementaraanmu
merias wajah dosamu di hadapan cermin dunia yang retak
kematian terlebih dahulu mengizinkanmu menyusun keping-keping hari indahmu
sebelum ia merobohkannya dengan satu sentakan yang menyakitkan

                                                                                                      -firman nofeki-

 ingin kuselami putihnya doa | menghanyutkan dosa yang menghitami muara ruhku
ingin sekali saja | kutulikan hati dari gusarnya cinta | menyalangkan telinga kepada debar suara mautku
agar kudengar bisik "inilah dunia | tempat dimana dosa selalu menang jika yang engkau takar adalah keindahannya"

                       -firman nofeki-

di lekung langit doa yang lain
kita sibuk membumikan kerinduan masing-masing

                                                                          -firman nofeki-


 Tuhan yang menitiskan rasa cinta, teguklah ia hanya dari cawan-cawan kasihnya
dari hulu hati kuapungkan doa-doa
moga doa kita bersua di satu arus rasa yang sama.

                                                                             -firman nofeki-

 tetaplah disini
ajariku makna lisankan hati
ingatkan ! bahwa ku tak pernah sendiri
akan kuberikan kau makna memiliki yang belum pernah engkau rasai
kan kujadikan kau alasan kenapa ku harus tetap berdiri

                                                                                    -firman nofeki-

 
Dunia adalah cermin yang retak
dan kebenaran adalah kau yang berdiri didepannya
yang takkan pernah selesai mendandani wajah kefanaan dan tubuh kesementaraan
sesungguhnya dalam dirimulah tersembunyi hakikat kemanusiaan dan keutuhan dalam cermin ke ilahian


 Allah tidak akan bertanya tentang atribut lahirmu | percayalah
keturunan yang terhormat, wajah yang cantik, fisik yang indah semua hanya sepenggal Bab kehidupan yang pasti akan memiliki titik punah

                                               -firman nofeki-


 

Minggu, 14 Juni 2015

PUISI RELIGI

DI RIMBA RAKA'ATKU ADA RINDU YANG MERIMBUN SEBAGAI KAMU

Karya : Firman Nofeki

''Duhai Pemilik waktu
dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir
pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah''

Engkaulah dermaga
tempat ikrar perjalananku melunasi batas
rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia
Engkaulah samudera
tempat senjaku membenamkan usia
melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa

Tuhan....

jagalah hati dan jiwa ini
seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi
menurut keteraturannya
biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia
sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat
sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat

di perahu sepi
kuamini gelombang maghfirahMu


Di kedalaman sujudku
kuselami putihnya do'a
menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku
di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu

Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku
akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu

Tuhan...

di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu
kupaku telinga di pintuMu
moga kudengar Kau mengetuk
bertamu ke bilik sepi sunyiku

14-06-15


PUISI FIRMAN NOFEKI di KOMPAS

STANZA KEHILANGAN

 

''bukan waktu yang hendak menculikmu, sayang
hanya jarak yang tidak teramat lantas aku sadari telah merentang tali pemisah
hingga ke hari depan yang mustahil aku hampiri''

dengan apa akan kutiti jembatan musim yang raib ini?
sedang angin yang terus menggelitik angan telah memecah arah
sekali lagi dengan apa harus kulintasi pertemuan?
jalanan yang berliku terlalu mustahil aku datarkan
angin yang berubah arah telah mengaburkan jejak langkah
perahu yang oleng, ke seberang haluan mana hendak aku layarkan?

ke jenjang langit yang mana kepergian telah menghadangmu
gelombang udara sederas apa yang menerjang jejakmu
sungguh do'a-do'aku ingin sekali berjabat dengan rindumu
sebelum maut berkemas dalam diri
aku ingin mengeja pamit di matamu
sambil menggugurkan tidur terakhir di bahumu

sayang,
kau lihat, senja telah berlabuh
malam hitam telah mengaliri muara
rindu semkin kuat berkayuh
mencari puncak subuh terbitnya sebuah dermaga

dalam laut pahamku yang tabah
waktu menggelombang rindu

dimanakah ruang rehat antara kepergian dan keberangkatan
masa depan yang gamang dengan apa hendak ku pancang?
  jika hidup hanya serapuh bayang
benang kasih mana yang sanggup kita julurkan?
  hujan menghadang di persimpangan
lalu sisa jejak manakah yang masih utuh untuk kita satukan?

sepi menjala badai di mataku
menghalau rindu ke sudut-sudut rabunku
dengan mata senyala doa apalagi kusinari gelapnya pengembaraan?
biar terangnya harapan itu dapat kupeluk sekali lagi
mengimami hati mencari kerinduan yang hakiki
serupa gelap puisi mencari terangnya sendiri

25-03-15

Sabtu, 13 Juni 2015

Puisi Firman Nofeki di Ruang Imaji

Di sebuah Hari yang Lain

 

di setiap lapisan kulit hari yang gigil ulah angin namamu
hujan menajam menyayatkan rindu
namun mulut kita masih saja mengerangkan semacam do'a
meski pertemuan berdarah pada waktu

di bilik hari yang lain
kurapikan isi kepala yang kusut
kusimpan dalam lipatan-lipatan kenangan kemaren
di dinding ingatan
telah kubingkai namamu
dalam figura rindu paling haru

di luar jendela
hujan satu-satu mengikis waktu
namun di rimbun usiaku, Sayang
kenangan akanmu terus tumbuh
hatimu masih saja dahan tempat lukaku biasa berteduh

di taman hari yang lain
akulah kupu-kupu yang beterbangan menuju kebun matamu
sepasang sayap kasih warna-warniku memenuhi separuh penglihatanmu
separuh yang lain memekarkan bahagia untukmu

di langit hari yang lain
hatimu adalah gravitasi tempat aku biasa terjatuh tanpa memar
rindu adalah cahaya kegaiban yang takkan lekas jadi pudar
memadamkan separuh api kesadaranku
keremangan memajaskan bayanganmu
persis di dinding kepalaku
di bawah langit hari yang lain
kita sibuk membumikan kesunyian masing-masing

disebuah hari yang lain
aku sibuk menajamkan rindu
serupa jam-jam sunyi yang terus sibuk meraut jarumnya sendiri
ajari aku kejahatan membunuh luka paling sempurna
agar dapat kutawan cinta dalam puisi paling penjara
biar luka penantian itu terkapar ke dasar renungan dan kehakikian cinta ilahi

10-06-15

Sabtu, 21 Maret 2015

SEBUAH SUNYI YANG KUNAMAI PUISI

(aku pernah memiliki satu rindu yang utuh dalam diriku, Hawa
setengahnya telah kusimpan dalam puisi
setengahnya lagi kusimpan di ruang takdirku yang sunyi)

dengan lengking kesedihan apalagi harus ku eja kalimat perpisahan itu, Hawa
sedang dalam kata-kata
kutemu kubah-kubah kehangatan
dimana azan-azan pengharapan acapkali aku kumandangkan
menggelayuti ranting-ranting alinea yang gugur ditimpa bongkahan do'a-do'a

jika di dunia yang lebih gila dari pada fiksi ini
bertatap lewat mata terlalu mustahil kita jadikan cara untuk menyatukan rindu yang terbagi
maka aku hanya ingin meletakkan jantung pertemuan itu di sebuah sunyi yang kunamai puisi

sebab dalam kata-kata
telah mampu ku eja warna kota yang buta
kota dengan tikungan narasi perpisahan  paling tajam
menghantarku pada kenangan di ujung jalan ;
sisa pertemuan yang gagal kita tabrakkan pada dinding takdir berlapis kerinduan

duhai Hawa,
aku telah lama terjebak negeri yang tidak memiliki gigil dan hujan ini
sebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayang-bayangmu
hari-harinya adalah kumpulan bait-bait kesepian yang tak pernah renta dimakan usia
aku terus hidup sebagai perindu yang suci
yang tidak terjamah kebahagiaannya sendiri

disebuah sunyi yang kunamai puisi ini
jarak mengundi waktu di meja ingatanku yang lumpuh
menghitung sisa-sisa hari yang akan kupertaruhkan pada Sang pemilik teguh permainan semu dunia ini
melebarkan kaki pertemuan yang masih terbelenggu di jangkar bumi

namun pada lengkingan peluit hari ke berapa pengembaraan itu musti kumulai
sedang disebuah sunyi yang kunamai puisi ini
aku masih merinduimu, dari dasar andai-andai dengan terpaan angan paling gila
aku masih mencintaimu, dari sudut terdalam ego yang entah kapan akan binasa

Firman Nofeki, payakumbuh 2015

Minggu, 01 Maret 2015

EPISODE MIMPI

dalam episode mimpi
ia menyaksikan pulau demi pulau harapan berhimpun menjadi satu
keringat perjuangan menumbuhkan sabana-sabana do'a yang kering
di bilik hari depan yang entah dimana dan kapan
angin kesuksesan serasa disemilir-hembuskan

dibelakang reruntuhan dinding-dinding hari yang rapuh
dihadangnya kerikil-kerikil tajam yang memenjara langkahnya
ditebasnya setiap kabut dan belukar yang mengintai
setitis sejuk embun jatuh di bilik jiwa yang bara
mengendap kedalam arus-arus mimpi tak bertepi
air mata menjadi bintang yang menyinari pengembaraannya
diatas kapal impian yang ia nahkodai
ia tompangkan impian-impian manis banyak orang
sebab kapal itu terlalu luas untuk dihuni mimpinya sendiri

dalam episode mimpi berikutnya
dihadangnya berlaksa hari depan yang dipenuhi teka-teki dan tanda tanya
dibukanya pintu demi pintu do'a yang pernah ia pinta
ia terdampar kedalam ruang mimpinya, tiba-tiba
disana, dunia mengapung rendah dalam genggamannya

ia : adalah gadis manis yang selalu percaya
bahwa usai menempuh teriknya perjalanan
kedalam gelas nasib jualah, harapan dan impian akan dituangkan
hingga ia seduh manisnya kesuksesan yang memabukkan

20-02-2015

Jumat, 16 Januari 2015

PUISI FIRMAN NOFEKI DI KORAN TEMPO

LELAKI YANG MENIUP HUJAN




sesungguhnya, ini bukan tentang ''hujan yang menyala di matamu'' sayang, bukan itu
ini juga bukan tentang ''hujan yang jatuh tiba-tiba''
dan kita berlari berteduh di rongga ternyaman dari hati masing-masing
ini juga bukan tentang sajak yang ''setelah hujan reda'' ada pelangi  melengkung indah antara hati hati kita
sekali lagi ini bukan tentang itu
semuanya telah engkau larutkan dalam sungai kenangan, bukan?
ini tentang hujan Desember yang begitu faham cara mengalirkan hangat masa kecil ke dalam gigil tubuhku
juga tentang malam yang membawa kado sepi
dan 20 batang hujan pengganti 20 nyala lilin yang mesti kutiup malam ini
sembari mengenang tahun-tahun yang disesap mulut-mulut sunyi

sayang
hendak aku khabarkan keadaan seperti apa yang begitu dalam melumat rongga dadaku
;( pada perahu usia,kulihat masa kanak-kanak melebur dalam kaabut-kabut purba
gelombang-gelombang harapan silih berganti menerjang kesepiannya
aku seperti terjerat jangkar takdir yang asing
sa'at mimpi melambungkan do'a-do'a ke sisi langit purnama
matahari mengisahkan indahnya rahasia-rahasia cahaya lusa
diam-diam ranting usia yang tidur dalam jasadku serasa berderak tiba-tiba)

sungguh, ini bukan tentang hujan yang menyala di mataku sayang
dan kau datang membawa sapu tangan untuk menepis abu gerimis dari wajahku
sekali lagi bukan itu
ini tentang hujan Desember yang mengisi lembar-lembar kosong diaryku
menjadi sajak-sajak muram yang mesti kutulis
mengapa kau tidak datang untuk sekedar melipat dan membuangnya
kemudian mengajariku merangkai kalimat ''selamat datang'' untuk hari yang berbahagia ini
menemaniku meniup 20 nyala hujan
memadamkan cahaya masa lalu yang nyala di mata dan sukmaku

16-12-2014

POHON SAJAK




lihatlah pohon sajak
yang berbuah semacam puisi berkulit rindu
dahannya melebar ke segala arah
tumbuh dan
berakar hingga ke ceruk jiwa


sebatang pohon sajak berpagar dinding waktu
tak rebah diterpa angin
tak runduk dilalui musim yang melapuk
berpasang-pasang burung-burung waktu berkelindan di dahannya
memeriahkan semacam musim pesta perkawinan

sebatang pohon sajak
tempat kepompong melekatkan sunyi
semedi dalam rumah penantian
memintal benang puisi menjadi sepasang sayap kupu-kupu
untuk terbang bebas mengitari rekah bibir bunga perindu

sebatang pohon sajak meranggaskan buah
disetiap musim, buah jatuh
bertunas dan tumbuh
berebut lahan di tanah jiwa yang lembab
berakar ke lapisan duka lara
yang terkubur dalam ceruk jiwa

payakumbuh, 1-04-14

IKA AKU TAK LAGI ADA




suatu hari jika aku tak lagi ada
maka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Meyhara
padanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muara
juga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu maut
dibelakang sudut kamar sepi, suatu hari

jika aku tak lagi ada
maka tenangkanlah isak hujan yang menangisi kepergianku
biar tak terbentang sebuah lautan diatas tanah pusara
walau beribu bahkan berjuta samudera air garam
tak akan sanggup mengasinkan pahit kepedihan
perahu umur yang berlayar jauh
pun telah tertambat jangkar maut sa'at menepi
di satu hari

sa'at aku tak lagi ada, Meyhara
layatilah mayat kepergianku dengan pakaian ziarah
yang kujahit dengan pintalan benang-benang waktu
balutkan bekas jemariku keseluruh tubuhmu
agar terus kurasai denyut namaku berdetak bersama jantungmu

jika suatu malam menghukummu dengan ingatan masa lalu kita, Meyhara
bakarlah puisi ini menjadi penerang jalan
sa'at kau mencari sebuah pintu waktu yang masih terbuka
didalamnya akan kau jumpai diriku
sebagai sebuah keabadian

02-04-14


Jumat, 09 Januari 2015

firman nofeki quotes

http://www.firmannofeki_quotes.com

KALIMAT-KALIMAT YANG TAK SEMPAT KUNAMAI PUISI

dan hujan desember pun tahu, bagaimana mengalirkan peluk hangat masa kecil ke dalam gigil tubuhmu

aku awali kalimat-kalimat yang bukan puisi ini dengan menyebut nama Sang Raja
demi ruh, hati, dan cintaku yang ada dalam genggamannya
Dia yang telah menyandingkan kesunyian dengan kata
menyandingkan malam dengan gulita
menyandingkan rembulan dengan cahaya
karena itu aku tak begitu heran bila setiap memandangmu gelap dan buta tercerai dari jiwa
sebab matamu adalah perpaduan malam, rembulan dan cahaya
sepasang matamu adalah jendela menuju jiwamu
sungguh aku begitu ingin mengintipnya
menyaksikan sakralnya malam pergantian usia

selamat menempuh usia baru, Bunga hati
teruslah merekah indah diantara mulia cinta
percayalah ! hidup hanya suatu hari
sepanjang pagi yang memananti bergulirnya percikan hangat sang fajar
hingga senja yang menanti padamnya matahari

dari lengkung langit yang tidak begitu berjarak darimu
aku menulis sedikit do'a sambil membayangkan lengkung matamu
aku melukis rembulan sambil mengingat rona merah di pipimu
yang terbakar malu-malu membaca kalimat-kalimat yang bukan puisi dariku
;)
selembar kertas lusuh untuk sekedar menyapu abu gerimis dari wajahmu
karena kado hujan yang kukirimkan mulai mengendap menyimpankan mendung

aku tahu, dalam pergantian usia
gerak jarum jam yang memainkan lagu rindu membuatmu begitu bahagia
tempat dimana suara-suara masa kecil masih tertanam
dan nyanyian sendu ibu masih serasa berkelakar mengamini sejarah kelahiranmu
engkau akan meyakini sebuah filsafah
bagaimana langit mata itu tidak pernah retak acap kali dibentur kejahilanmu
engkau akan percaya, bahwa
pada tiap nasi yang pernah ia mamah untukmu ada asupan cinta yang tak pernah sirna
sebab engkaulah karunia cinta kasih
yang ia syukurkan dalam khidmat do'a-do'a

aku berfikir engkaupun pasti sama konyolnya dengan diriku
menatap dirimu di cermin, sambil menguliti gigil masa lalu yang membutil di tubuhmu
kemudian menaburnya di halaman
membiarkan hujan sejarah membajaknya
masa menyuburkannya, membuahkan kenangan
aku membayangkan engkau berteduh di bawah rindangnya
sambil menunggu selembar namaku jatuh bersama guguran daun-daunnya
dengan sedikit lugu aku berani sombong, sayang
engkau akan menulis namamu dibalik lembarannya
:D

Maaf,
aku tak bisa datang untuk sekadar memadamkan nyala kecewa dimatamu
atau menyaksikan bilangan-bilangan baru menetas dari rahim usiamu
namun, demi kata-kata yang tak sempat kunamai puisi ini
aku akan berusaha mengayam sebuah hati putih untukmu
hati yang kelak bisa engkau tulisi apa saja
bahkan, menulis tentang aku yang malam ini sedikit membuatmu kecewa :)

29-12-2014
00:00

Rabu, 17 Desember 2014

DI POTRET SAJAKKU

di potret sajakku
kutemukan muka-muka menua
;merekalah waktu-waktu penantianku

di kamar sajakku 
ada engkau yang terjaga
; menembus rabunku.

di sungai sajakku
ada muara yang tenang 
;melautkan doa-doa 
ada riak yang pasang
menghanyutkan sejuta kita. 

LELAKI YANG MENIUP HUJAN

sesungguhnya, ini bukan tentang ''hujan yang menyala di matamu'' sayang, bukan itu
ini juga bukan tentang ''hujan yang jatuh tiba-tiba''
dan kita berlari berteduh di rongga ternyaman dari hati masing-masing
ini juga bukan tentang sajak yang ''setelah hujan reda'' ada pelangi  melengkung indah antara hati hati kita
sekali lagi ini bukan tentang itu
semuanya telah engkau larutkan dalam sungai kenangan, bukan?
ini tentang hujan Desember yang begitu faham cara mengalirkan hangat masa kecil ke dalam gigil tubuhku
juga tentang malam yang membawa kado sepi
dan 20 batang hujan pengganti 20 nyala lilin yang mesti kutiup malam ini
sembari mengenang tahun-tahun yang disesap mulut-mulut sunyi

sayang
hendak aku khabarkan keadaan seperti apa yang begitu dalam melumat rongga dadaku
;( pada perahu usia,kulihat masa kanak-kanak melebur dalam kaabut-kabut purba
gelombang-gelombang harapan silih berganti menerjang kesepiannya
aku seperti terjerat jangkar takdir yang asing
sa'at mimpi melambungkan do'a-do'a ke sisi langit purnama
matahari mengisahkan indahnya rahasia-rahasia cahaya lusa
diam-diam ranting usia yang tidur dalam jasadku serasa berderak tiba-tiba)

sungguh, ini bukan tentang hujan yang menyala di mataku sayang
dan kau datang membawa sapu tangan untuk menepis abu gerimis dari wajahku
sekali lagi bukan itu
ini tentang hujan Desember yang mengisi lembar-lembar kosong diaryku
menjadi sajak-sajak muram yang mesti kutulis
mengapa kau tidak datang untuk sekedar melipat dan membuangnya
kemudian mengajariku merangkai kalimat ''selamat datang'' untuk hari yang berbahagia ini
menemaniku meniup 20 nyala hujan
memadamkan cahaya masa lalu yang nyala di mata dan sukmaku





16-12-1993



Jumat, 26 September 2014

Aku akan pergi ke kota paling rindu itu
kota yang tidak memiliki gigil dan hujan
sebab semesta dan langit-langitnya adalah bayang-bayangmu







Kamis, 21 Agustus 2014

LELAKI YANG MENUNGGUI KEBAHAGIAAN KELUAR DARI PINTU SYURGA



dengan dorongan langkah ia melampaui zaman-zaman
musim-musim melambai, waktu-waktu berpasung di kakinya
lelaki itu, berjalan untuk mengetuk rahim fajar yang menelurkan subuh
di embun matanya, Dik, kabut memekat dan larut
membanjiri cakrawala

lelaki itu melangkah di atas arwah peradaban yang tertidur di kaki akar
satu tetes keringatnya menjadi lautan
dimana sampan-sampan sejarah merangkak di punggungnya
setetes darahnya membentuk pulau-pulau
kerinduan karam, kesepian terdampar
kepergian setelah kedatangan silih berganti membangun pusara di atas ubunnya
sebuah jejaknya berubah jembatan
tempat kematian menyeberangi kehidupan

kebahagiaannya tak mendapat musim untuk kembali
serupa darah mengalir tak pernah balik ke liang nadi

ia lelaki yang tersesat di liang rahim, alam menelurkannya ke bumi
dierami di bawah panasnya bangsal-bangsal peradaban
ia menetas dan berumah di cangkangnya
melewatkan usia dalam bayangan hampa

lumut-lumut menjalar mengakari ingatan
keganasan bumi adalah jejak yang terekam
lelaki itu, dik, dengan kegersangan langkahnya ingin menghidupkan musim semi
berdiri senyiur pohon-pohon, menunggui cuaca menjatuhkan buah
agar tanah tak lagi sunyi

lelaki itu, dik, dengan kekeringan matanya ingin melayarkan perahu-perahu
mencari bayangan ayah-ibu yang termakan abad
serupa kematian berdiri di atas kepala, demikian harapan dibangun
hingga lumut mengakari daging

lelaki itu merindukan dua belah sayap jatuh disisi punggungnya
terbang, menunggui kebahagiaan keluar dari pintu syurga

payakumbuh, 17-03-14

Rabu, 20 Agustus 2014

KETIKA PENA JATUH CINTA PADA KATA-KATA



* engkaulah arakan awan-awan yang menjatuhkan hujan kesejukan
akulah yang senantiasa menyimpan rintiknya
mengalirkannya kedalam anak-anak sungai jiwa yang tenang
 ― firman nofeki

*  Dikota paling rindu itu,Ningtyas
malam senantiasa menjatuhkan pejammu di mataku, mencuriku diam-diam dari mimpi, kemudian menidurkanku diatas bantalan lembut hati.
kau perempuanku, jangan tutup pejammu aku takut pada bangun, yang kan membuatmu jatuh kedalam selaput rapuh kabut pagi
 ― firman nofeki (dalam puisi Ningtyas)

*“hanya dia yang berasal dari tulang rusukku lah kelak yg bisa merawat hati ini. sebab dialah yang pernah bersemayam dekat dengan detaknya.”
firman nofeki

*  “keringat dan air mata adalah anak sungai yg akan terus mengangkut sampan impianku. Diatasnya, akan kutompangkan impian-impian manis banyak orang. Sebab sampan ini terlalu luas jika hanya dihuni impianku sendiri”
firman nofeki

*  “jika puisi tak jua mampu mewakilkan perasaanku padamu, kekasih
biarlah kuhantarkan dengan do'a-do'a yang kutompangkan lewat kereta Tuhan dimalam-malam buta
biarlah kuwakilkan lewat sampan-sampan yang berlayar diatas genangan air mata munajat”
firman nofeki

DIRGAHAYU INDONESIAKU

Indonesia....
seKali langitmu tempat wajahku mengadah
sekali tanahmu menjadi tubuh yg melekati arwah
maka selamanya kita padu dalam satu

Dirgahayu indonesiaku...
walau beribu watak pewaris tahtamu
tetap satu tanah juangku
kami mencintaimu lebih lama dari selamanya

17-08-2014

KETIKA PENA JATUH CINTA PADA KATA-KATA



* Assalamu'alaikum rindu
semoga Allah senantiasa meletakkan tangan pelindungNYA untuk menjagamu, dari kejahatan kesedihan yg senantiasa menyinggahimu  
_firman nofeki

* mungkin hari ini aku adalah bahagian terburuk dari mimpi
namun hidup harus tetap menyala, meski perih kusirami dengan air mata sendiri  
_firman nofeki

* engkau laksana sajak yang tak kunjung selesai. dengan begitu saya tidak akan pernah meninggalkanmu
_firman nofeki

*  aku masih terus mengingatmu, dan membiarkan kenangan itu lesap menguap kedalam lapisan hari-hari.
agar disetiap pagi, kenangan tentangmu kembali mengembun difikiranku. meluruhkan semua rasa itu, utuh dan putih _firman nofeki

* aku akan pergi ke kota paling rindu itu, ningtyas
kota yg tidak memiliki gigil dan hujan
sebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayanganmu _firman nofeki, penggalan puisi Ningtyas''

* jika yg engkau miliki adalah cinta mati, maka hatiku adalah makam yg tepat untuk mengbadikan jasadnya _firman nofeki

* rindu adalah mahkota kebesaran yg kukenakan, berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.
padamu, apa yg kusebut sebagai cinta tak lebih tegar dari setetes embun yg berhastrat meretaki bebatuan, tak lebih khusyuk dari do'a-do'a yg kuisyaratkan dalam munajat-munajat hening pengharapan  
_firman nofeki_


Selasa, 19 Agustus 2014

TERUNTUK AKU DAN TUHAN






TERUNTUK AKU DAN TUHAN

  Enam bulan sesudah grup tarinya bubar, Nani belum memutuskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Saban petang, sebelum matahari tergelincir  di barat, ia masih setia menyusuri jalan setapak yang mendaki. Melintasi rimbunan alang-alang yang sebelumnya tak pernah tumbuh disana, untuk kemudian tiba disebuah bangunan kayu beratap rumbia, berlantai bambu tanpa dinding yang menutupi. Ditempat itulah dulu ia menghabiskan  hari-hari untuk berlatih menari. Dulu sebelum petang tiba, tabuhan suara gendang, gamelan, dan hentakan kaki para penari yang diiringi menjadi cara tersendiri bagi Nani dan teman-teman nya untuk sekedar menikmati keindahan alam ini.
            Kadang ia membayangkan dirinya tengah berada disebuah gedung festival seni yang megah. Bergabung bersama seluruh penari-penari dari mancanegara. Menunjukkan pada dunia bahwa indonesia juga memiliki beragam tarian tradisional yang luar biasa. Mungkin tidak kalah hebatnya dengan Gangnam style ataupun Harlem shake yang sekrang begitu tenar dikalangan masyarakat. Menurutnya tidak sedikitpun mengandung nilai-nilai estetika.
‘’Aku mestinya sudah menari diluar negeri !’’ selalu ia mengakhiri khayalannya dengan kata-kata itu. Kemudian ia akan menari sendirian. Merasakan kembali berada ditengah-tengah Wiwit, Hanum, dan Helia yang tiada lain adalah teman-teman sesama menari dahulu. Mereka yang satu kampung tergabung dalam sebuah grup tari yang mereka beri nama ‘’Kaki Bumi’’ ditemani beberapa orang pemain alat musik daerah dari kampung mereka. Disini. Dipentas kayu sederhana ini dulu mereka  sering belajar gerakan-gerakan baru. Nanilah sosok yang paling antusias memperagakan setiap gerakan-gerakan baru yang ia ciptakan sendiri.
‘’coba kalian lihat gerakanku yang ini ! ini perpaduan Reog Ponorogo dengan tarian Pagean Bali’’. Ia berputar-putar sembari memegangi ujung-ujung selendangnya dengan jari telunjuk dan jempol saling mengatup. Satu kaki ia jinjitkan sambil terus memainkan selendang biru tua yang berkibar dihembus angin petang yang bergerak semilir.
‘’plok..plok...plok.. kamu memnag hebat’’, ujar seluruh penari lain. Kemudian mereka akan meminta Nani untuk mengajarkan mereka.
            Perlahan air matanya turun menyapu rona merah diwajahnya. Kemudian berderai satu-satu kelantai, membentuk genangan kecil yang tak beraturan.  Kerinduan akan kebersamaan mereka seperti meledak-ledak. Perempuan bertubuh sedang itu tersedak.
Dipejamkannya matanya. Diingatnya kembali semua gerakan-gerakan indah yang pernah mereka mainkan disini. Tiada lagi suara iring-iringan gamelan dan gendang yang ditabuh. Cuma angin yang menciptakan irama kegetiran disetiap gerakan tariannya. Dalam hati ia terus membatin. Ia akan terus menari, sekalipun tiada orang lain yang peduli. Ia akan terus menari meski hanya untuk dirinya sendiri, dan untuk Tuhan yang telah memberikannya mimpi yang terus menari-nari dikedalaman hati.
*
Dulu, Nani sungguh menikmati hari-harinya. Bila pagi tiba, ketika matahari sepenggalah tingginya, ia bersama rombongan yang telah menunggunya disanggar berangkat memenuhi undangan mengisi acara hajatan atau festival menari. Ia dan beberapa penari lain, ditemani para penabuh gendang, gamelan dan para pemain musik lain berjejalan di bak truk yang mengakut mereka. Biasanya mereka akan bernyanyi lagu-lagu daerah ditemani dentuman-dentuman gendang dan gamelan hingga ditempat tujuan.
Honor dua ratus lima puluh ribu dibagi dengan lima orang penari dan empat orang pemain musik harus ia jalani empat tahun belakangan ini. Semenjak ayah dan ibunya meninggal ia telah diwarisi wewenang untuk melestarikan budaya yang terus diwariskan dari keluarga turun temurun. Menjadi penari tarian tradisional. Kehidupan paman dan bibinya yang hanya digantungkan pada sawah dan kebun pisang tidak terlalu mampu memenuhi kebutuhan Nani.
‘’Zaman mungkin telah berubah, fanatisme terhadap budaya lokal mulai terpupus dari ingatan masyarakat. Namun kita menari untuk melestarikan budaya bangsa kita. Cukuplah Reog Ponorogo yang hampir lepas dari tangan bangsa ini’’, ujar nani suatu kali sepulang dari memenuhi hajatan untuk menari dikampung sebelah. Matanya terus menerawang diambang petang. Truk L300 yang mereka tumpangi  terus melaju meninggalkan langit barat  yang tampak bewarna kemerah-merahan. Asap bergulung-gulung meluncur  menggumuli  kekesalan teman-temannya yang harus pasrah hanya dibayar sepuluh ribu perorang. Hasil yang tak sepadan dibanding tari tradisional yang hidup mati harus mereka perjuangkan.
*
Peristiwa dibelakang panggung  pertunjukan itu tidak pernah sirna dari ingatan Nani. Usai pertunjukan pertama mereka memutuskan berlatih dibelakang panggung. Suara bilah-bilah bambu dan gamelan yang dipukul terseok-seok diantara gerakan kaki-kaki penari yang tidak bertenaga. Latihan singkat itu terhenti sejenak.
‘’kudengar kamu akan bekerja dikota Wit?’’ ujar seorang laki-laki brewokan yang biasa menabug gendang pada seorang penari bernama Wiwit. Pertanyaan itu disambut raut tak percaya dari wajah Nani dan yang lainnya. Arena latihan itu sontak hening, sebelum Nani angkat bertanya.
‘’benarkah itu Wit?”’
‘’iya, Paman Dewo dan Istrinya akan memperkerjakanku pada sebuah toko sepatu yang baru mereka buka’’. Wiwit hanya menatap keluar panggung. Tak berani menatap wajah rekan-rekannya yang pasti kecewa setelah mendengar penuturannya.
‘’kami sangat mengerti kemauanmu wit, apalagi melihat keadaan grup Kaki Bumi yang kian tidak ada penghasilan tetap. Namun ini tak akan lama, Cuma menunggu masyarakat ini sadar betapa berharganya tari tradisional. Dan yang kita lakukan sekarang adalah perjuangan untuk itu’’, ujar Nani sambil kembali membenarkan sanggulnya yang terlepas.  
‘’Menunggu? Menunggu sampai kapan? Perjuangan kita ini tak ubahnya serupa make up diwajahmu itu. Mereka telah membilasnya dengan air modernisme. Luntur. Dan tak bersisa apa-apa kecuali nama. Hidup disini sudah hampir tidak ada harapan. Aku juga harus memikirkan nasib kedua anak-anakku.’’. Wiwit berdiri sambil mengemasi isi tas nya.
‘’tapi  keputusanmu itu menurutku sangat egois.  Baru kemaren kita berjanji  untuk terus berjuang bersama-sama. Namun sekarang tiba-tiba kau ingin minggat dari usaha yang sudah lama kita rintis ini’’ , ujar pemain suling dengan nada putus asa.
‘’hidup tidak pernah bisa kita tebak, kadang kita perlu mencoba sesuatu yang baru untuk berubah. Nasib ada ditangan kita masing-masing, bukan pada gendang ,suling ataupun gamelan ini. Ini sudah keputusanku. Minggu besok aku akan berangkat ke kota’’. Wiwit hanya menoleh sebentar kepada teman-temannya, sebelum memalingkan punggung keluar dari pentas pertunjukan. Pertunjukan mereka hari itu batal, dan terpaksa pulang tanpa membawa apa-apa.
Petang itu adalah terakhir kali mereka bertemu dengan Wiwit. Sepekan berlalu, Wiwit sudah pergi ke kota dijemput pamannya. Semenjak kejadian itu grup Kaki Bumi kehilangan gairah. Satu persatu anggota mulai putus asa dan berguguran. Sebagian mereka ada yang kembali menggarap sawah, berkebun dan berladang. Sebagian lagi memutuskan mengadu nasib ke kota, mengikuti jejak Wiwit, penyebab awal bubarnya Kaki Bumi.
*
            Setelah melewati deretan semak dijalan setapak belakang rumahnya, Nani bersandar di dinding sanggar tarinya. Dikepalanya terus terngiang-ngiang keinginan paman Harun yang membuatnya jenuh dan memutuskan berdiam diri ditempat ini.
‘’ Sudah sa’atnya kamu harus mencoba  peruntungan Nan. Bekerja di kota. Atau paling tidak membantu bibimu mengolah sawah dan berladang. Tentu jauh lebih baik’’. Perkataan pamannya seperti hendak menggorok mimpi-mimpinya.
‘’paman tidak pernah tahu apa yang aku inginkan. Paman tidak mengerti masalah mimpi-mimpiku’’, ujar Nani seraya memalingkan muka dari paman Harun yang berdiri didepan pintu kamarnya.
‘’Pamanmu benar Nani.  Tidak ada salahnya kan kamu mencoba bekerja. Toh semua teman-temanmu dulu sudah banyak yang sukses dikota’’. Ujar bibinya  yang sedari tadi ikut nimbrung .
‘’ini bukan hanya masalah uang, paman dan bibi tidak akan pernah mengerti. Ini juga tentang masalah harga diri. Harga diri kita dan negeri ini’’. Usai berkata demikian Nani bergegas keluar meninggalkan paman dan bibinya yang tampak putus asa membujuknya.  Dua orang yang telah ia anggap orang tua itu juga tidak mengerti dengan keinginan dan mimpinya. Mimpi yang telah diwariskan oleh ibunya yang juga seorang penari. Ia juga ingin menjadi penari. Memperkenalkan seni negeri ini kepada bangsa lain. Sehingga tidak ada lagi budaya bangsa ini dicap sebagai budaya mereka.
            Gerimis mengalirkan gelap. Namun Nani masih berkutat dengan mendung fikirannya. Sesekali ia mengalihkan pandangan pada alat-alat musik yang kini bisu, merindukan tangan-tangan para pemainnya. Ia berfikir keras, mencoba mencari kemungkinan baru  dari mimpi-mimpinya ini. ‘’mimpi harus terus berjalan, sekalipun disa’at kita kehilangan sandara untuk berdiri. Ia akan terus menari, meskipun itu hanya untuk dirinya dan Tuhan’’, ujarnya dalam hati.
            Bergantinya waktu membuatnya memutuskan untuk menjual alat-alat musik disanggarnya. Ia akan membuka kursus menari ditempat ia sekarang berdiri.
*
            Tak ada lagi suara gamelan ataupun bunyi merdu suling yang ditiup, yang ada hanya suara Nani yang begitu antusias memperbaiki gerakan-gerakan murid-muridnya.  Sesekali muridnya bergurau mengikuti gerakan-gerakan Nani yang sulit mereka ikuti. Namun dengan sabar Nani membenarkan. Ia tahu mempelajari tari tradisional membutuhkan kesabaran  dan penekanan jiwa yang mendalam kedalam diri sang penari itu sendiri. 
Sebulan berlalu sanggar latihan menarinya dibuka, namun baru enam orang yang mau menjadi muridnya, itupun karena dijanjikan gratis oleh Nani. Hanya bermodalkan uang hasil penjualan alat-alat musik, Nani mencukupi semua kebutuhan sanggar menarinya. Meskipun tidak seperserpun bayaran yang ia dapatkan,namun Nani yakin titik dari mimpi itu ialah kepahitan, dan ujungnya ialah kemanisan. Ibarat rerumputan kering yang menjulang  disekeliling sanggar, kelak ia akan hijau seiring berlalunya kemarau . hujan yang membasahi akan menumbuhkan kembali tunas-tunasnya. sebuah kalimat perjuanagn telah menelan bulat-bulat hatinya.  
‘’modenisasi seringkali berhadapan dengan wajah-wajah tradisionalisme  kesenian tradisional yang menyimpan nilai-nilai adiluhug regional. Spiritual dalam lokalitasnya, cenderung  bertentangan dengan dengan modernitas yang mengedepankan rasionalitas’’, ujar Nani suatu kali, usai melatih murid-muridnya.
Sekarang dimana ada hajatan sangat jarang dihiasi dengan seni tradisional. Semenjak organ tunggal memasuki kampung ini, seni tradisional seolah mati suri. Nani seringkali miris menyaksikan generasi muda yang berbondong-bondong menonton organ tunggal. Menyaksikan biduan-biduan seksi meliuk-liuk diatas pentas.
            Usia Nani memang baru 23 tahun. Usia yang cukup muda untuk memiliki jiwa kulturalisme yang tinggi. Memiliki keinginan yang mungkin hanya dimiliki oleh satu orang saja dari seribu orang generasi muda di dunia. Pernah ia ditawari bekerja sebagai Suvenir di kota oleh sahabatnya Hanum, kawan sesama menari dulu. Lebaran kemaren ia pulang dengan mobil sedan mewah. Namun ada satu hal yang berubah dari sahabatnya itu, yaitu cara berpakaian nya yang cendrung lebih terbuka. Konon kata tetangga-tetangganya, Hanum bukan bekerja sebagai suvenir , melainkan sebagai penyanyi diskotik dan penari di club malam. Penawaran itu ditolak Nani mentah-mentah. Setidaknya untuk sekarang ia merasa lebih beruntung dari pada hanum, masih punya moral dan harga diri.
*
            Malam itu lampion-lampion terpajang dan menyala dimana-mana. Jutaan pemuda ramai memenuhi ruas jalan. Aroma miras tercium setiap kali Nani melewati kerumunan orang-orang yang terbius dunia malam. Musik Disco, Gangnam style dan Harlem shake menambah erotisme pesta mereka. Mereka semua menari sambil memegang botol-botol miras. Gerakan mereka liar , bahkan ada yang serupa orang kerasukan. Lelaki dan perempuan bercampur baur dalam aroma bejat yang membius. Nani terus berjalan sendirian. Menerobos kerumunan yang semakin sesak. Jutaan pasang mata memandang kerahnya. Ia kemudian memilih jalan lain sebelum diajak berbaur dengan mereka. Kali ini jalan yang ia lalui penuh belukar. Jalan setapak yang sangat ia kenali. Sepanjang jalan nyaris tak seorangpun ia temui, selain kabut hitam dan ilalang-ilalang yang berdiri setinggi mata kaki. Akhirnya sampai  juga ia pada sebuah bangunan kayu, berlantai bambu. Ah, disinilah ia biasa latihan menari bersama teman-temannya. Tempat yang dindingnya retak, dan atap setengah runtuh. Botol-botol vodka dan wiski berserakan. Gelas-gelas yang pecah serta pakaian-pakaian dalam manusia benggantung di dinding-dinding. Sebuah type recorder terdengar menyala, memainkan irama Harlem shake.
            Dalam suasana hati yang bergulung-gulung terdengar  suara seorang wanita begitu keras memanggil namanya. Ia putar pandangan, namun hanya kabut pekat yang ia lihat, mengambang diremang cahaya. Sebelum sempat melangkah pergi, sebuah tangan menyentuh pundak kirinya. Ia menoleh. Kerongkongannya tercekat. Seorang wanita berambut acak-acakan mirip bibinya berdiri dihadapannya. Tanpa berkata sepatah katapun sebilah pisau ditangan kiri wanita itu melayang cepat kearah wajah nani.
‘’Nani... Nani... kau kenapa Nani’’? wanita setengah baya itu terus menguncang tubuh Nani yang dipenuhi keringat dan nafas berhembus tak beraturan. Nani membuka mata. Ia melihat sosok  wanita yang tampak cemas ketakutan.
‘’kau bermimpi buruk?’’ ujar bibi sambil terus mengusap lembut punggung Nani. Terasa nafasnya belum stabil. Langit tampak gelap. Ternyata ia sudah dua jam tertidur di sanggar karena kecaian usai mengajar murid-muridnya. Untung ada bibi, kalau tidak mungkin ia telah mati sia-sia dalam mimpinya. ‘’Mimpi yang aneh, namun terlihat begitu nyata’’, ujarnya dalam hati.
*
            Setahun sudah grup tarinya bubar, namun ia belum memberi jawaban tentang keinginan paman Harun yang menginginkannya bekerja dikota. Nani merasa sedang diadili oleh nasib. Kursus tarinyapun sekarang terancam bubar. Disebabkan alasan-alasan yang berbeda dari murid-muridnya. Ada yang beralasan les privat, dan ada juga yang beralasan harus menolong orang tua kesawah dan berladang.
Saban petang, sebelum matahari tergelincir dibarat, Nani masih setia menyusuri jalan setapak, melintasi rimbunan ilalang yang makin meninggi, untuk kemudian tiba disebuah bangunan berlantai bambu. Bangunan yang selalu mengingatkannya dengan gendang-gendang yang ditabuh, atau tepuk tangan Wiwit, Hanum dan Helia yang memuji kehebatan gerakan tarinya. Kemudian dalam keheningan ia pejamkan mata. Ia biarkan angin-angin lembut membelai rambut dan melambungkan angan kemasa silam. Tanpa ia sadari tangan dan kakinya telah bergerak. Menari, mengikuti irama sendu angin. Sekarang gerakan yang ia mainkan adalah gerakan-gerakan kerinduan dan harapan. Kerinduan akan kawan-kawan lamanya sesama menari dulu. Dan harapan untuk terus menari walaupun tanpa orang lain. Ia akan terus menari meski hanya teruntuk dirinya, dan teruntuk Tuhan yang masih setia merawat mimpi-mimpinya.


Padang, 24 April 2013